Kebisingan Lalu Lintas: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Mental

Klikhijau.com - Kebisingan lalu lintas  yang terus-menerus menerjang pendengaran. Rupanya memiliki dampak yang berbahaya. Tidak hanya  mengganggu tidur, tetapi mengganggu kesehatan mental. Sebuah s...

Kebisingan Lalu Lintas: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Mental
Bacakan Artikel

Kebisingan juga mengaktifkan respons stres tubuh melalui aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal. Hal ini dapat mengganggu regulasi emosi, kognisi, dan perilaku – terutama pada anak-anak yang sistemnya masih berkembang.

Paparan kebisingan dihitung untuk sisi rumah yang paling banyak terpapar dan paling sedikit terpapar. Rata-rata tahunan mencakup kebisingan lalu lintas jalan raya dan kereta api , dengan bobot tambahan untuk jam malam dan siang hari.

Melalui catatan medis

Para peneliti memeriksa catatan medis peserta untuk menentukan apakah mereka memiliki diagnosis depresi atau kecemasan.

Dr. Anna Pulakka, penulis utama studi tersebut mengatakan, analisis mereka lakukan menunjukkan bahwa risiko kecemasan paling rendah ketika kebisingan lalu lintas berada di sekitar 45 hingga 50 dB di sisi hunian yang lebih tenang, tetapi meningkat secara signifikan setelah 53 hingga 55 dB.

“Di atas 53 dB, kebisingan menjadi pemicu stres psikologis yang signifikan bagi kaum muda, terlepas dari apakah seseorang tidur di sisi tempat tinggal yang lebih tenang atau lebih bising,” katanya.

Kaitannya dengan kecemasan lebih kuat pada laki-laki dan pada mereka yang orangtuanya tidak memiliki gangguan kesehatan mental.

[irp]

Para peneliti menyelidiki apakah polusi udara atau akses ke ruang terbuka hijau dapat menjadi penyebab hubungan antara kebisingan dan kesehatan mental. Mereka menemukan bahwa kebisingan secara independen memengaruhi kesehatan mental, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain tersebut.

Kebisingan malam hari

Kebisingan di malam hari sangat berkaitan dengan depresi, mendukung gagasan bahwa gangguan tidur akibat kebisingan mungkin merupakan salah satu cara kebisingan memengaruhi kesehatan mental.

Untuk kecemasan, dampak terbesar terlihat di tempat-tempat dengan tingkat kebisingan 60–65 dB. Tempat-tempat ini juga cenderung memiliki lebih banyak tantangan sosial dan lingkungan, seperti kondisi kehidupan yang lebih buruk.

“Temuan kami mendukung tindakan lebih lanjut untuk mengurangi paparan kebisingan lalu lintas,” jelas Yiyan He, penulis utama studi tersebut.

Bagi para pembuat kebijakan dan perencana kota, hal ini harus mencakup langkah-langkah seperti memastikan kamar tidur berada di sisi hunian yang lebih tenang dan memastikan adanya ruang terbuka hijau di dekatnya. Untuk transportasi, ban yang lebih senyap atau batas kecepatan yang lebih rendah juga perlu dipertimbangkan.

Sekitar 10% anak muda dalam penelitian ini didiagnosis menderita depresi atau kecemasan saat mereka berusia 30 tahun.

Karena kebisingan lalu lintas merupakan sesuatu yang dapat diubah oleh kota, hal ini dapat menjadi fokus upaya pencegahan. Menurunkan tingkat kebisingan di area hunian dapat membantu melindungi kesehatan mental, terutama di tahun-tahun ketika otak dan emosi masih berkembang.

Temuan ini mendukung langkah-langkah perencanaan perkotaan, seperti merancang kamar tidur di sisi bangunan yang lebih tenang dan menurunkan batas kecepatan.

[irp]

Dari Earth

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2