Kapur Barus, Inovasi Unik Mengusir Babi Hutan tanpa Menyakiti

Klikhijau.com - Botol-botol plastik menggantung indah di kebun Nasir. Isinya bukan air, tapi kapur barus. Jadinya, ada berbagai campuran aroma begitu memasuki kebunnya. Aroma tanah, rerumputan, daun c...

Kapur Barus, Inovasi Unik Mengusir Babi Hutan tanpa Menyakiti
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Hanya yang membedakan, media yang mereka gunakan untuk menyimpan kapur barus. Jika Nasir memilih botol platik bekas, maka ayah saya lebih memilih kantong kresek bekas. Sementara caranya sama, menggantungnya di kebun dengan melubanginya agar bau kapur barus berlompatan keluar.

Bau atau aroma kapur barus yang menyengat dan unik. Rupanya tak disukai oleh babi. Makhluk yang lebih banyak berkeliaran di malam hari ini cenderung menghindarinya.

Penggunaan kapur barus cukup efektif, sebab kebun yang kere-kereang--istilah lokal Desa Kindang untuk menamai tanah yang kerap diacak-acak oleh babi hutan untuk mencari makanan. Tanah yang kere-kereang tak pernah mempan ditanami dan ditumbuhi tanaman apa pun itu. Sebab diusik oleh babi hutan setiap saat.

Dikutip dari Kompas, bahwa babi hutan lebih mengandalkan indra penciumannya yang tajam dibandingkan dengan indra penglihatan. Pasalnya, hama ini aktif mencari makan di malam hari.

Kapur barus yang memiliki wangi yang tajam dapat mengganggu indra penciumannya.. Apalagi jika dicampur dengan terasi. Kapur barus mesti ditumbuk halus dan campurkan dengan terasi, dapat menanggung indra penciuman babi hutan.

Campurannya tersebut (kapur barus dan terasi) lalu digantungkan pada sekeliling lahan dengan setinggi badan babi hutan kurang lebih 30 cm.

Hama hewan dan dampaknya

Basral dan Purwaningsih (2025), mengatakan bahwa hama hewan merupakan salah satu faktor yang paling nyata merugikan petani karena langsung menimbulkan kerusakan pada tanaman dan berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan ekologi.

Babi hutan (Sus scrofa) adalah hewan liar yang paling merugikan. Apalagi satwa liar ini, di Indonesia, spesies ini ditemukan hampir di seluruh kepulauan dan dapat beradaptasi dengan berbagai habitat, mulai dari hutan dataran rendah hingga kawasan pegunungan.

Mereka memiliki memiliki kemampuan bertahan hidup tinggi di berbagai kondisi lingkungan, termasuk semi-padang pasir, padang rumput, hingga hutan tropis.

Babi hutan berkembang biak dengan sangat cepat, sehingga populasinya cukup melimpah, hal itu tentu memberikan dampak negatif signifikan baik secara sosial-ekonomi maupun ekologi.

Cara mereka mencari makan adalah dengan  rooting atau mencari makan dengan membongkar tanah  dan pembuatan sarang menyebabkan kerusakan vegetasi dasar dan menurunkan kualitas habitat.

Bagi masyarakat, serangan babi hutan menimbulkan kerugian ekonomi akibat rusaknya lahan pertanian, sehingga diperlukan strategi pengendalian yang efektif dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek sosial-ekonomi petani

Penggunaan kapur barus untuk mengusir babi hutan dari lahan pertanian, seperti yang dilakukan Nasir dan ayah saya bisa jadi pilihan menarik dan cerdas. Bukan hanya karena hemat biaya, tetapi juga tanpa menyakiti babi hutan (secara fisik).

Bau tajam dari kapur barus mampu membuat babi hutan enggan mendekat ke area tersebut, karena aroma menyengatnya menimbulkan rasa tak nyaman baginya, sehingga mereka akan menghindarinya dan tanaman bisa selamat hingga panen.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2