Iwan Dento, Benteng Kokoh Penyelamatan Ekosistem Karst Rammang-rammang

Klikhijau.com – Apa yang Anda bayangkan setiap melihat bukit-bukit karst? Kebanyakan orang akan membayangkan industri semen atau keramik. Tak banyak yang terpikir tentang kehidupan petani, nelayan ata...

Iwan Dento, Benteng Kokoh Penyelamatan Ekosistem Karst Rammang-rammang
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Apa yang Anda bayangkan setiap melihat bukit-bukit karst? Kebanyakan orang akan membayangkan industri semen atau keramik. Tak banyak yang terpikir tentang kehidupan petani, nelayan atau ekowisata. Begitulah Iwan Dento (40) menggelitik kesadaran kita perihal karst.

Nama lengkapnya Muhammad Ikhwan, tetapi lebih akrab disapa Iwan Dento. Lelaki kelahiran Maros 10 Oktober 1980 ini seolah benteng kokoh yang tegar melawan gempuran hegemoni cara berpikir kapitalisme.

Bertahun-tahun lamanya, Iwan Dento merajut impiannya bahwa karst Rammang-Rammang Maros harus terjaga. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk anak cucunya kelak.

“Saya tidak ingin suatu waktu anak saya bertanya soal karst yang hilang. Padahal saya sendiri (bapaknya) adalah seorang pendaki,” cerita Iwan.

Yah, Iwan Dento memang seorang pendaki yang mencintai lingkungan alam paling dekat dengan hidupnya yakni karts. Tak sekadar hobi biasa, Iwan melakoninya dengan daya cinta.

Setiap mendaki, anak-anaknya selalu diikitsertakan. Ini penting baginya, agar semangat cinta alam dalam dadanya terpatri pula dalam jiwa anak-anaknya.

Ayah 5 anak ini (Gibran, Galang, Bimbing, Ibnu, Raya) selalu merasa bertanggungjawab pada anak-anak dan generasi berikutnya. “Anak-anak kita juga berhak atas apa yang ada sekarang,” ucapnya.

Itulah sebabnya, Iwan seperti peluru yang melesat menghalau segala rupa rayuan atas nama investasi. Gerakan advokasi berbasis warga ia lakukan secara terus-menerus. Visinya satu, ekosistem karst harus terjaga dan warga sekitarnya tetap bisa sejahtera tanpa ada kerusakan alam.

Aksi dan visinya ini bukan tanpa rintangan, selain harus berhadapan dengan pemodal dan “pemerintah”, ia juga berhadapan dengan stigma sosial. Di awal-awal ia merintis gerakannya, tak sedikit orang melihat gelagatnya sebagai kegilaan.

Tetapi, ia tetap harus berdiri dan berjuang di jalannya yang sepi. Setiap titik jenuhnya menghantui, api juangnya membara kembali saat melihat anak-anaknya di rumah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2