Ini Tempat Sahur Ramah Lingkungan di Bantaeng

Klikhijau.com – Bergerak saja ke Selatan Sulsel meski malam telah menua. Jika kamu melewati Kabupaten Jeneponto, yang dianggap Walikota Makassar, Dannyy Pomanto, cocok menjadi Ibu Kota negara Indonesi...

Ini Tempat Sahur Ramah Lingkungan di Bantaeng
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Bergerak saja ke Selatan Sulsel meski malam telah menua. Jika kamu melewati Kabupaten Jeneponto, yang dianggap Walikota Makassar, Dannyy Pomanto, cocok menjadi Ibu Kota negara Indonesia. Usah kamu khawatir tak menemukan tempat sahur.

Tak terlalu jauh dari perbatasan Jeneponto-Bantaeng, tepatnya di dekat pom bensin pertama   sebelum pusat kota Bantaeng, warung makan berjejer menyambut mereka yang perutnya keroncongan.

Ini kisah saya kemarin

Sebungkus nasi dibalut daun pisang hijau segar tersaji di depan saya. Rasa lapar siang itu, Minggu, 5 Mei 2019 telah merongrong perut.

Di warung-warung tersebut menyajikan dua pilihan makanan, songkolo (nasi ketan) dan nasi santan, harganya murah meriah sepuluh ribu rupiah

Dengan uang berjumlah lima digit,  empat di antaranya “angka” nol itu, kamu  bisa menikmati nasi santan yang ramah lingkungan dengan lauk  sepotong ikan goreng yang renyah.

Sementara sayur dan sambalnya disediakan terpisah, kamu bisa menyantapnya sepuas inginmu, bayarnya tetap sama Rp. sepuluh ribu rupiah saja.

Nasi santan, adalah nasi yang dimasak bersama santan kelapa. Untuk hasil yang nikmat seperti nasi santan di warung saya maksud, maka perlu di masak dua setengah jam. Selain rasanya lebih nikmat, juga akan tahan lama.

Nasi santan kreasi warga Bantaeng di warung tersebut mudah dikenali, sebab menggunakan pembungkus daun pisang segar. Daun pisang merupakan pembungkus nasi alami yang ramah lingkungan.

Bukan hanya pembungkusnya yang ramah lingkungan, tetapi juga minuman yang disiapkan, sebab tak menggunakan air kemasan plastik. Kamu akan menuangnya sendiri air ke dalam gelas.

Namun, akan bijak jika menuangnya sesuai kebutuhan minum, jangan menuang terlalu banyak kemudian tak bisa dihabisi, sebab membuang-buang air adalah salah satu perilaku yang tak ramah lingkungan.

Penjual di sana bukan tanpa alasan menggunakan pembungkus daun pisang, sebab aroma nasi lebih wangi, lebih tahan lama, lebih murah serta lebih ramah lingkungan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2