Ini 4 Tuntutan Anak-anak Muda ‘Koprol Iklim’ di Hari Kasih Sayang!

Klikhijau.com - Bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, Komunitas Pemuda Pemudi Pro-Keadilan Iklim (Koprol Iklim) mengajak masyarakat untuk merayakan kasih sayangnya kepada bumi yang tengah mengalami kri...

Ini 4 Tuntutan Anak-anak Muda ‘Koprol Iklim’ di Hari Kasih Sayang!
Bacakan Artikel

Ketiga, pemerintah juga harus melakukan tindakan tegas untuk melindungi dan menjaga hutan yang tersisa serta keanekaragaman hayati di Indonesia. Terakhir, Koprol Iklim juga menuntut pemerintah untuk mengakui hak-hak masyarakat adat sebagai benteng terakhir dalam perlindungan hutan dan pesisir.

Melalui manifesto ini, Koprol Iklim juga ingin mengajak kaum muda Indonesia dari berbagai etnis, latar belakang, identitas, suku, dan keunikan untuk bergerak mendorong Indonesia keluar dari krisis iklim. Anak muda sebagai bagian dari generasi yang akan memimpin masa depan Indonesia harus diberikan tempat oleh pemerintah untuk turut menentukan masa depan melalui pembentukan Dewan Anak Muda Nasional.

Mereka juga mengharapkan pemerintah mendorong lapangan kerja hijau yang benar-benar memberikan ruang untuk masa depan berkelanjutan serta berwawasan iklim dan lingkungan.

“Kami percaya bahwa semangat dan daya kaum muda Indonesia begitu besar untuk mendorong sebuah perubahan. Karena itu, kami mengajak kaum muda Indonesia untuk bergerak secara kolektif dan kolaboratif guna mendorong Indonesia keluar dari krisis iklim. Kami juga berharap, pemerintah segera memberikan tempat kepada kaum muda sebagai bagian dari generasi yang akan memimpin bangsa untuk turut merencanakan masa depan yang berkelanjutan,” jelas Gea.

Menanggapi tuntutan kelompok pemuda tersebut, dua orang narasumber pada acara “Aku Jatuh Cinta Kepada Bumi” juga turut memberikan tanggapan terkait pentingnya gerakan pemuda untuk mendorong Indonesia keluar dari krisis iklim.

“Dahulu kita meninggalkan zaman energi kayu bakar bukan karena kehabisan kayu bakar. Kini perlahan kita akan meninggalkan zaman energi fosil tanpa menunggu kehabisan energi fosil. It’s not if, but when. Hari ini adalah saatnya untuk zaman energi terbarukan,” ujar Tubagus Aryandi Gunawan, peneliti Renewable Energy dan H2.

Menanggapi keterlibatan masyarakat adat, Laetania Belai Djandam selaku aktivis lingkungan Dayak menegaskan bahwa aksi iklim tidak akan efektif dan berkelanjutan tanpa memprioritaskan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang hidup di sekitar lingkungan alam.

“Kita sedang tidak hidup di dalam dunia Avengers, di mana mereka dapat berkelana menuju masa lalu guna memperbaiki bumi yang luluh lantak akibat perkara batu. Kita hanya punya waktu sekarang. Butuh berapa lama lagi hingga akhirnya kita menyadari bahwa uang tidak akan menyelamatkan kita? Kita tidak perlu repot-repot mencari Thanos, satu pernyataan tegas dan tanda tangan di atas kertas kebijakanmu dapat mengubah masa depan Indonesia dan dunia hingga 100 tahun ke depan,” ucap Laetania.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2