Ibu Atma, Perempuan yang Mencintai Sampah

Klikhijau.com - Awal bulan dalam penanggalan baru di bulan Agustus 2022, KLIKHIJAU bersama komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS) mengadakan sharing session bertajuk, "Brain Storming : Ekonomi Sirkular...

Ibu Atma, Perempuan yang Mencintai Sampah
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Klikhijau.com - Awal bulan dalam penanggalan baru di bulan Agustus 2022, KLIKHIJAU bersama komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS) mengadakan sharing session bertajuk, "Brain Storming : Ekonomi Sirkular dan Ruang Kolaborasi Penanggulangan Sampah di Kota Makassar", Senin sore (01/8/2022).

Hadir sebagai Narasumber pada kegiatan tersebut Editor in Chief Klikhijau, Anis Kurniawan, Sang pemburu limbah plastik (P3LI), Makmur. Ada juga Ibu Atma, Owner/Pengelolah Bank Sampah Kemuning, dan Mashud Azikin selaku Founder Manggala Tanpa Sekat, yang selama ini bergerak dan fokus mengelolah sampah organik.

Dalam kesempatan sebagai pemantik kedua dalam diskusi, selaku pemandu diskusi saya mempersilahkan Ibu Atma untuk berbicara.

Sebelum bersuara, wajah Ibu Atma tampak sedikit haru, bahkan berlanjut saat mengawali kisah dan perjalanannya bersentuhan dengan sampah.

Selaku pendiri dan pengelolah Bank Sampah Kemuning dari rumahnya, ia mengalami banyak tantangan. Berbagai komentar skeptis terucap dengan nanar atas sikap dan pilihan geraknya.

Sosok yang Mencintai Sampah

Sebagai pensiunan PNS, Ibu Atma mengelolah Bank Sampah Kemuning dengan jumlah nasabah 100-an orang, praktis membuat kediamannya di kompleks Minasa Upa menjadi pemandangan sampah yang menggunung dalam jejeran puluhan bahkan ratusan karung.

Namun keuletan, ketekunan, dan kejujurannya menjadi pilihan bagi pemulung untuk menjual sampahnya. Setiap pemulung yang datang ke rumahnya demi menyetor sampah, dicatatnya dengan rapih dalam buku tabungan.

Ia juga dengan telaten menghitung jumlah pendapatan setiap pemulung sambil menyelipkan sejumlah uang kertas dalam buku tabungan tersebut. Tak sampai disitu Ibu Atma ikut membungkus buku tabungan sampah dengan plastik transparan agar tak mudah rusak.

Dari rumahnya, Ibu Atma menjadi sasaran bagi para pemulung untuk menjual sampahnya. Rumahnya mudah dikenali. Posisi rumah terletak di sudut jalan dengan garasi terletak disisi jalan. Di dalam garasi ini, ada banyak tumpukan sampah kategori kering. Di sela-sela jejeran sampah menjadi perlintasan untuk dilalui dengan siksak.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2