Gua Batu Rammang-Rammang, Ruang Eksotik bernuansa Klasik Seolah di Istana Batu

Klikhijau.com – Di Rammang-Rammang desa Salenrang, Kecamatan Bontoa Maros, segala sisi kehidupan alamnya memancarkan pesona. Di balik gugusan pegunungan karst yang bersejarah itu, ada metafora alam...

Gua Batu Rammang-Rammang, Ruang Eksotik bernuansa Klasik Seolah di Istana Batu
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Di Rammang-Rammang desa Salenrang, Kecamatan Bontoa Maros, segala sisi kehidupan alamnya memancarkan pesona.

Di balik gugusan pegunungan karst yang bersejarah itu, ada metafora alam dari bebatuan klasik, bukit-bukit batu, gua batu hingga area persawahan. Semuanya, menjanjikan keindahan dan ruang perjumpaan kembali ke masa silam dengan alam yang otentik.

Gua batu, keindahan dari jarak dekat

Hari masih pagi saat kami tiba di Rammang-Rammang, hujan rintik tipis menyertai saat kami menelusur membelah sawah-sawah yang sedang musim tanam padi.

Sekira tiga tahun sebelumnya, saya pernah ke desa ini—tampaknya telah banyak berubah. Kecuali bebatuan dan gugusan karst, rumah-rumah dan bangunan kini semakin banyak.

Tujuan kami kali ini adalah ke gua batu, sebuah spot baru yang belum familiar dan belum diresmiskan sebagai tempat wisata. Ini tentu kesempatan terbaik menjejakinya lebih awal.

Pekan sebelumnya, kawan kami, Eko Budiharto (45) sudah pernah ke gua batu—dari beliaulah kami mendengarkan cerita yang cukup meyakinkan untuk akhirnya memutuskan mertandang lagi, sama-sama.

Saat tiba di lokasi gua batu yang dimaksud, sebuah hutan batu tampak begitu megah layaknya istana batu. Kami takjub tiada tara! Tak hanya lantaran gugusan bebatu klasik itu eksotis, tetapi karena sebentar lagi kami akan berjalan ke sebuah gua, di sela-sela bebatuan tak beratutan itu.

Ini sungguh tak biasa dan tanpa menunggu lama, penjajakan dimulai. Kami berlima, selain Mas Eko Budiharto, ada Mas Yadi, Bintang dan Agung—kami dari Komunitas Petualang Apa Adanya (KPAD)—sebuah komunitas yang mulai intens menelusur ke spot-spot terdekat dari kota Makassar.

Jalan menuju gua batu harus melintasi sawah berair dengan sebuah jembatan bambu yang dirakit khusus hingga ke dalam gua. Yah, bambu rakit ini sengaja dibuat oleh warga setempat sebagai  jembatan memasuki gua.

Menurut Sakir (26), seorang warga Salenrang, setidaknya ada 300 batang bambu yang sambung-menyambung hingga ke dalam gua. Setiap bambu membentang sekira 7 hingga 8 meter, lalu dirakit dengan beberapa bambu untuk saling menguatkan dan cukup aman dilalui berjalan kaki.

“Harus hati-hati, karena bambunya licin, apalagi hujan!” pesan Mas Eko Budiharto saat petualangan masuk gua batu dimulai. Seperti tak percaya, saat berada di mulut gua, posisi badan harus menunduk karena ada bagian-bagian tertentu yang tetiba menyempit.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2