Gua Batu Rammang-Rammang, Ruang Eksotik bernuansa Klasik Seolah di Istana Batu

Klikhijau.com – Di Rammang-Rammang desa Salenrang, Kecamatan Bontoa Maros, segala sisi kehidupan alamnya memancarkan pesona. Di balik gugusan pegunungan karst yang bersejarah itu, ada metafora alam...

Gua Batu Rammang-Rammang, Ruang Eksotik bernuansa Klasik Seolah di Istana Batu
Bacakan Artikel

Awalnya cukup menyeramkan, setidaknya di sepuluh langkah pertama. Suasananya gelap gulita, jadi lampu senter harus dinyalakan. Posisi kaki yang berjejal pun perlu waspada. Bambu yang licin dan posisi bebatuan di atas kepala, membuat adrenalin berpacu.

Suasana semakin senyap dan terus terang memang sedikit menakutkan. Setidaknya, butuh sedikit keberanian untuk melanjutkan perjalanan mengikuti ujung bambu. Jaraknya juga cukup jauh, sekira 300 meter berada dalam gua yang gelap gulita.

Namun, beberapa kali kami harus berhenti sejenak untuk mengambil gambar dan foto bersama. Di gua batu ini, semua bagian selalu mengejutkan dan benar-benar bernuansa klasik, instagrmable. Dijamin, aktivitas foto-foto di gua ini memang menggiurkan. Jadi, persiapkan baterai handphone atau kamera Anda yah!

Sembari berswafoto, jangan lupa perhatikan posisi kaki dan kepala. Bebatuannya lumayan tajam dan tentu berbahaya bila terbentur. Di beberapa bebatuan berbentuk meja yang menarik untuk swafoto juga perlu berhati-hati, begitu pula dengan jembatan bambu, semuanya licin tingkat dewa.

Kawan kami, Mas Eko Budharto bahkan sempat terjatuh sesaat setelah kami membuat rekaman video di atas bebatuan datar. “Ini pengalaman menarik, harus dicatat!” sembari tertawa menghibur mas Eko Budiharto.

Kami berhasil sampai ke ujung jembatan bambu dan beruntung bisa berjumpa Sakir yang sedang mengantar Hamsiah (50), kerabatnya. Darinya, kami mendengar cerita tambahan mengenai gua batu ini.

Gua kenangan dan godaan investasi

Sembari bergerak melintasi jalan pulang ke titik awal, Hamsiah berkisah bahwa pada bulan Juni 2020 lalu, saat dirinya pulang kampung, jembatan bambu ini belum ada.

“Saya kaget, ternyata adami jembatan. Jadi, penasaran mau masuk. Makanya saya minta Sakir antar saya,” kata Hamsiah.

Hamsiah sebenarnya warga asli Salenrang Rammang-Rammang, tapi sudah lama merantau ke Kendari. Ia pun penasaran dengan suasana gua batu. Katanya, dulu gua ini tidak bisa dijangkau bila musim hujan karena genangan air bisa mencapai pinggang orang dewasa.

Ia pun ikut senang dan bangga dengan jembatan bambu yang katanya dibuat atas swakelola dan gotong royong bersama warga lokal setempat.

“Semasa kecil, kami menjadikan tempat ini untuk mencuci pakaian. Ada sumur dulu di sini pak!” tutur Hamsiah menunjuk ke sebuah titik yang dipenuhi air keruh.

Cerita itu dibenarkan oleh Sakir yang juga punya kenangan masa kecil, bermain di gua batu ini. Keduanya pun sangat bangga karena semakin banyak pengunjung yang datang, bahkan berkali-kali kedatangan turis asing.

“Semua yang datang selalu takjub dengan pemandangan alam di sini!” kata Sakir. Karenanya, Sakir dan warga desa senantiasa berjuang untuk menjaga keaslian karst dan gua batu Rammang-Rammang. Baginya, ini warisan alam yang tak ternilai harganya.

Kata Sakir, berkali-kali ada godaan masuk ke desanya. Mereka adalah investor yang mencoba mengeksploitasi karst dan bebatuan menjadi produk-produk ekspor.

“Pernah ada investor marmer mau masuk, tapi kami di sini (warga: Red) menolak,” tegas Sakir. Anak muda ini dengan tegas mengatakan bahwa investasi hanya akan merusak bebatuan karst dan memiskinkan warga desa.

“Sampai kapan pun, tempat ini akan kami pertahankan,” tegas Sakir semangat.

[caption id="attachment_18725" align="alignnone" width="640"]CAfe batu Istirahat di sebuah Cafe berbukit batu di sekitar gua batu Rammang-Rammang Maros - Foto/Agung[/caption]

Hujan tetiba mengguyur deras saat Sakir sebenarnya menawarkan kami menjejaki satu bagian di gua batu itu. Kami bergegas harus keluar, gua batu tentu tak aman bila hujan membawa petir. Beruntung, ratusan file-file foto menawan telah kami kumpulkan dalam kamera.

Gua batu yang eksotik ini bisa saja akan disesaki pengunjung suatu waktu. Tentu perlu dibenahi lagi terutama fasilitas dan akses masuk ke dalam gua. Faktor keamanan juga tak kalah pentingnya.

Lalu, siapa yang semestinya mengurus potensi wisata ini? Ini yang jadi pertanyaan, untuk sementara waktu ini dikelola warga setempat dan mungkin berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Apa pun itu, pariwisata di kawasan ini haruslah melibatkan warga desa agar semua bisa berdaya.

Faktanya, spot ini memang menjanjikan dan dapat menggerakkan semua pihak. Selepas dari gua batu ini, kami masih menghabiskan waktu berlama-lama menikmati teh hangat di sebuah cafe di atas bukit batu, hutan batu dan area persawahan yang membentang indah.

Sejujurnya, kami mendambakan menginap walau semalam dan menikmati kopi pagi di atas bukit batu. Makan siang dengan beras organik langsung dari petani lokal dan menikmati ikan nila berkembang biak di sekitar gua batu. Akhirnya, kami sadar, betapa alam Indonesia memang istimewa—meski belum sama sekali “diapa-apakan”.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2