Ekspansi Kelapa Sawit dan Ancaman yang Dibawanya Terhadap Lingkungan

Klikhijau.com – Ekspansi kelapa sawit semakin meluas. Bahkan isu yang beredar akan menyasar kabupaten yang berjuluk Butta Panrita Lopi, Bulukumba. Isu tersebut mulai menyebar setelah pernyataan Bup...

Ekspansi Kelapa Sawit dan Ancaman yang Dibawanya Terhadap Lingkungan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Ekspansi kelapa sawit semakin meluas. Bahkan isu yang beredar akan menyasar kabupaten yang berjuluk Butta Panrita Lopi, Bulukumba.

Isu tersebut mulai menyebar setelah pernyataan Bupati Bulukumba, Andi Muhtar Ali Yusuf, yang berusaha mengundang investasi kelapa sawit masuk ke Bulukumba.

Menurutnya, dengan adanya investasi kelapa sawit, akan menambah pemasukan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga tidak perlu lagi merantau ke Malaysia atau ke Kalimantan.

Dan ide itu mendapat beragam tanggapan. Ada yang mendukung, namun tidak sedikit pula yang mengecam dan tidak sejalan.

Salah satu yang tidak sejalan dengan ide tersebut adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Selatan, yang  menilai ekspansi tumbuhan ini ke Bulukumba akan memperparah rekam jejak konflik agraria.

Telah menjadi konsumsi publik, jika konflik agraria di Bulukumba telah berlangsung lama sejak masuknya PT Lonsum di kabupaten asal perahu pinisi itu.

Direktur Walhi Sulsel, Muhammad Al Amin menjelaskan, “Kita khawatir masuknya sawit akan memperparah konflik agraria. Karena ini masih rencana, saya berharap (pemerintah) tidak melupakan konflik dan memprioritaskan penyelesaian konflik yang dialami masyarakat Kajang,” tegas Amin. (Baca: Meninjau Ulang Rencana Bupati Bulukumba Datangkan Perusahaan Sawit)

Ancaman lain dari perkebunan kelapa sawit, akan memperparah laju kerusakan ekologis. Apalagi  tanaman ini bersifat monokultur, sehingga  dapat membahayakan lahan pertanian milik masyarakat yang berada di sekitar perkebunan.

Rakus air

Kelapa sawit adalah tanaman yang rakus air. Hal ini telah dibuktikan banyak peneliti, di antaranya Dufrene (1993) yang dikutip oleh  Rany Utam, dkk (2017). Dufrene menemukan bahwa satu batang pohon kelapa sawit membutuhkan air 2,31 mm/hari dan dapat menyerap air sampai-1,25 kedalaman 5,2 m. Penelitian Dufrene tersebut dilakukan  di Pantai Gading, Afrika Selatan.

Penelitian lain dilakukan oleh Kallarackal (2004) di India, ia menemukan bahwa perkebunan kelapa sawit dapat mengganggu persediaan air tanah untuk tanaman lain di luar kebun kelapa sawit, sebab pengurasan air tanah oleh perkebunan sawit sangat banyak.

Hasil studi itu menemukan jika rata-rata air yang dibutuhkan satu batang dari pohon ini berkisar 385 l/ha/hari dengan jumlah-5,5 mm/hari atau 140-2,0 143 pohon/ha. Bayangkan dan hitung sendiri berapa yang dibutuhkan air jika ada seribu batang pohon penghasil minyak ini.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2