Dunia Serangga Segera Berakhir?

Klikhijau.com – Pagi masih belia. Namun, berita miris telah bertandang, yakni dunia serangga segera berakhir. Padahal makhluk kecil itu  memiliki peran penting bagi ekosistem. Namun, sepertinya kur...

Dunia Serangga Segera Berakhir?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Peggie menjelaskan, penyebab utama penurunan populasi serangga adalah alih fungsi lahan, perubahan iklim, penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, serta adanya faktor biologis termasuk patogen dan spesies invasif.

Untuk menyelamatkan serangga setiap individu harus berkontribusi  menekan laju penurunan serangga yang terjun bebas.

“Status kiamat serangga saya setuju dan sangat menghawatirkan, ”ungkap Peggie.

Hanya saja, Peggie juga menuturkan masih perlu pendataan untuk melihat  jenis serangga yang terancam sehingga belum dapat melakukan prioritas.

Karena itu, untuk mengetahuinya maka perlu diadakan pendataan terlebih dahulu.

Sementara itu, Pedro Cardoso, ahli biologi di Finnish Museum of Natural History  mengungkapkan jika  ancaman punah serangga menjadi alarm bagi manusia. Ketika serangga hilang maka ancaman besar akan mengintai.

"Krisis kepunahan serangga saat ini sangat mengakhawatirkan. Namun apa yang kita tahu hanyalah puncak gunung es," katanya.

Mencegah kepunahan serangga

Langkah yang diambil untuk mencegah terjadinya kiamat dunia serangga adalah pendataan. Pendataan itu dipelopori oleh LIPI melalui dana yang diperoleh dari Global Biodiversity Information Facility.

“Kami juga mendapatkan dana dari Global Biodiversity Information Facility untuk melakukan pendataan dan digitalisasi spesimen kupu-kupu,” ujar Peggie.

Pendataan itu tidak hanya bagi pihak LIPI saja, tapi juga masyarakat. Caranya dengan mengirimkan koleksi dalam bentuk foto spesies dengan melengkapi data tempat dan waktu ditemukan.

Koleksi tersebut dapat menjadi data observasi, salah satunya dalam InaBIF.

Sedangkan Kepala Bidang Zoologi  Pusat Penelitian Biologi LIPI lainnya, Cahyo Rahmadi menyatakan bahwa pendataan serangga adalah upaya LIPI untuk melengkapi data kehati. Data ini akan menjadi salah satu dasar untuk menyatakan status kepunahan.

“Negara maju sudah memiliki perbandingan data serangga dari tahun ke tahun. Sedangkan di Indonesia baru sebatas memiliki koleksi spesimen. Inilah yang dianggap sebagai kondisi kritis eksistensi serangga,” terang Cahyo.

Cahyo mengharapkan agar perilaku   masyarakat berubah untuk menghargai keberadaan makhluk kecil tersebut.

Jika masyarakat menghargai serangga, menganggap keberadaannya sangat penting, maka dunia serangga bisa saja tak segera berakhir.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2