Dosen Universitas Pertamina Perkenalkan Pirolisis Sampah Plastik di Makassar

oleh -97 kali dilihat
Dosen Universitas Pertamina Perkenalkan Pirolisis Sampah Plastik di Makassar
Dosen Universitas Pertamina Perkenalkan Pirolisis Sampah Plastik di Makassar - Foto: Ist

Klikhijau.com – Nona Merry M. Mitan, seorang Dosen dan peneliti dari Program Studi Ilmu Kimia Universitas Pertamina perkenalkan sistem pirolisis sampah plastik pada para pegiat lingkungan di Makassar, Jumat (6/01/2023).

Merry memperkenalkan bagaimana pirolisis dapat dipakai untuk mengelola sampah plastik. Dari proses pengolahan ini, kemudian dihasilkan bahan bakar sekaliber bensin yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.

Apa itu pirolisis?

“Piro artinya api dan lisis berarti peruraian. Jadi, pirolisis bisa disimpulkan sebagai peruraian plastik secara termal tanpa oksigen. Dari proses ini kemudian menghasilkan produk antara lain gas, cairan hingga residu berupa karbon atau tar (aspal),” kata Merry.

Dengan kata lain, pirolisis adalah suatu proses dekomposisi suatu bahan pada suhu tinggi yang prosesnya tanpa oksigen atau dengan udara sangat terbatas. Proses ini kerap pula dinamai devolatilisasi.

KLIK INI:  Menteri Siti Tegaskan Komitmen Tanggulangi Polusi Plastik di Forum Internasional

“Proses pembakaran ini menggunakan alat tertentu dan berlangsung dengan suhu maksimal selama 4-7 jam. Untuk melakukan pembakaran ini dibutuhkan energi listrik sekitar 3500 W,” katanya.

Merry menambahkan, sebetulnya ada opsi alternatif untuk energi pembakaran yakni dengan menggunakan gas. Untuk sekali proses pembakaran, setidaknya diperlukan sekira setengah tabung gas.

“Memang sejauh ini belum ada hitungan ekonominya yang kami lakukan. Misalnya, berapa beban biaya listrik atau gas yang dipakai dengan produk yang dihasilkan,” katanya.

Ketua Komunitas Manggala Tanpa Sekat (MTS) mengapresiasi skema pirolisis ini untuk dikembangkan dan diperkenalkan ke masyarakat.

“Menurut saya ini sangat baik, sebagai satu opsi penanganan sampah di masyarakat. Hal penting saat ini adalah bagaimana kita saling support dan berkolaborasi karena orang-orang yang bergelut dan konsisten di bidang persampahan tidak banyak,” katanya.

KLIK INI:  Kurban Asyik, Tanpa Kantong Plastik

Hal senada dikatakan Pegiat Persampahan, Makmur Payabo yang mengaku sudah pernah mendengarkan mengenai pirolisis, namun belum pernah melihat langsung prosesnya.

“Saya cukup tertarik dengan pirolisis ini, jadi kalau memang bagus dan memberi dampak pada penanganan sampah plastik, tidak ada salahnya dikembangkan,” katanya.

Tujuannya banyak, bisa diambil gasnya, juga residunya tergantung tujuannya. Kalua mau buat gas, kita mainkan suhunya.

Pirolisis memang merupakan hal baru dan membutuhkan suatu teknologi sederhana dalam mengembangkannya.

Nona Merry M. Mitan, mengaku sedang berupaya melakukan riset lanjutan untuk menjawab keraguan masyarakat mengenai skema satu ini. Diantaranya dengan sentuhan teknologi lebih baik lagi, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya cairan, tetapi juga gas dan lainnya.

Selain itu, Merry melihat pentingnya penelitian lanjutan mengenai aplikasi produk bahan bakar yang dihasilkan. Termasuk pada hal teknis lainnya seperti jenis-jenis plastik yang bisa jadi bahan bakunya dan bagaimana efisiensi selama proses bisa dilakukan.

“Sejauh ini, ada sekitar 40 persen cairan bisa dihasilkan dari setiap 100 gram bahan baku. Jadi, ini perlu edukasi mengenai kualitas bahan baku yang dipakai. Untuk harga alatnya dengan kapasitas 3,5 liter dibanderol seharga 35 juta rupiah,” pungkasnya.

KLIK INI:  Lalu Siapakah yang Bertanggung Jawab Terhadap Sampah Plastik?