Dokter Reisa, Edhy Prabowo, dan Stunting
Klikhijau.com – Stunting atau pendek atau kerdil menjadi permasalahan global, termasuk di Indonesia. Penyebab utama adalah karena gizi. Kenapa stunting menjadi masalah, itu karena berhubungan den...
Klikhijau.com – Stunting atau pendek atau kerdil menjadi permasalahan global, termasuk di Indonesia. Penyebab utama adalah karena gizi.
Kenapa stunting menjadi masalah, itu karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan otak suboptimal sehingga perkembangan motorik terlambat dan terhambatnya pertumbuhan mental.
Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Ini akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa (Sutarto dkk, 2018).
[irp]
Sederhananya ‘penyakit” ini merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan.
Di Indonesia berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah masalah stunting berkepanjangan. Salah satunya mengedukasi para remaja.
Remaja, menurut Indiana Basitha dari Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation adalah calon ibu yang akan mengalami fase kehamilan, melahirkan, dan mengasuh buah hatinya.
Oleh karena itu, remaja harus mulai diedukasi sebelum menikah hingga akhirnya memasuki fase pernikahan. Masalah kekerdilan ini tidak hanya isu untuk orang tua dan pasangan yang sudah menikah. Namun, juga mereka yang belum menikah.
Mengedukasi remaja dianggap penting, ini karena apabila ibu mengalami asupan gizi kurang sejak remaja. Si ibu akan berisiko punya anak kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola makan ibunya dan terus berputar.
Data Riskesdas 2018 menunjukkan, 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus.
[irp]
Global Health survei 2015 menunjukkan, penyebabnya antara lain remaja jarang sarapan, 93 persen kurang makan serat sayur buah. Ditambah angka pernikahan remaja di Indonesia tinggi, padahal hal ini berkontribusi pada kejadian stunting.