Di Tangan Nurhadi, Sampah Styrofoam yang Bebal Jadi Jinak dan Berharga

Klikhijau.com - Keprihatinan terhadap pemakaian styrofoam yang massif dan kebanyakan hanya berakhir sebagai sampah di lautan, menginspirasi seorang Nurhadi (42) untuk berkreasi. Di daerah tempatnya...

Di Tangan Nurhadi, Sampah Styrofoam yang Bebal Jadi Jinak dan Berharga
Bacakan Artikel

Imajinasinya seolah tanpa batas. Karya-karyanya tampak hidup dan menggoda karena mengutamakan dimensi seninya. Nurhadi mengembangkan sendiri ide-idenya. Inspirasi terbaiknya adalah dirinya sendiri dan dari perkembangan karya-karyanya.

Tidak heran, bila karya-karya Nurhadi yang memang populer seperti ornamen aquarium atau bonsai sungguh tampak hidup dan futuristik.

Ayah dua anak ini mengajak kita melihat karyanya sebagai sebuah dunia baru. Pada bonsai berdaun mungil, kita menjumpai semangat ketelatenan dan komposisi yang apik dan sempurna. Sedangkan pada ornamen aquarium-nya, kita menemukan semacam gagasan tak biasa yang memaduakan antara estetika kolam ikan mini dan kebutuhan desain ruang yang tak membosankan.

[caption id="attachment_13154" align="alignnone" width="448"]replika bonsai styrofoam replika bonsai berbahan sampah styrofoam karya Nurhadi-Foto/Ist[/caption]

Tidak sekadar karya daur ulang

Melihat karya-karya Nurhadi, rasanya tidak sekadar melihat suatu peristiwa perpindahan dunia, suatu metamorfosa. Dari sampah styrofoam yang bebal menjadi karya artistik yang mewah—ini juga suatu proses berkarya yang di baliknya menyimpan pesan mendalam. Pesan filosofis bahwa pada segala apa pun, sejatinya dapat berpotensi dimodifikasi menjadi lebih berarti.

Dalam konteks ini, Nurhadi seolah ingin berkata: plastik sekali pakai dan styrofoam adalah benda-benda tak berdosa. Benda ini akan menjadi musuh bagi manusia dan lingkungan, karena manusia itu sendiri kehilangan nalar dan cara menjinakkannya.

Begitulah kreasi daur ulang menaruh pesan terdalam bahwa manusia harus bisa mengendalikan sampahnya dengan cara yang elegan. Dan tanggungjawab itu ada setiap individu, setiap kita yang setiap harinya menghasilkan sampah.

Kini, di rumahnya di Kompleks Ruko muka kuning indah II Blok B2 No 03, Batu Aji, Batam, Nurhadi dan keluarga terus berjuang dengan karya kreatifnya. Ia masih mengerjakannya sendiri, namun berharap suatu waktu keahliannya ini dapat ditularkan ke orang-orang di sekitarnya. Agar semakin banyak yang mengambil peran.

Bersama istrinya (Srinurgiatwati), ia mulai memanen hasil karyanya dengan pemesanan yang berdatangan dari mana-mana. Harganya cukup bervariasi, mulai yang puluhan ribu, ratusan bahkan ada yang seharga Rp 1 juta. “Tergantung tingkat kerumitan, estetika dan tingkat kerumitannya Bung,” tuturnya.

Pada Sahabat Hijau, Nurhadi berpesan agar kreasi daur ulang sampah terus berkembang. Menurutnya, edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat semakin peduli bahwa pada plastik sekali pakai dan styrofoam ada bahaya terbesar yang terus mengintai.

Nurhadi juga seolah mengajak kita berpikir bahwa ada tantangan baru di masa datang yakni daur ulang tak sekadar memanfaatkan kembali apa yang terbuang atau sampah. Lebih dari itu, diperlukan inovasi dan kreativitas tanpa henti, sentuhan estetika dan imajinasi tanpa batas—sebab tantangan kita adalah bagaimana mengubah perilaku.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2