Demi Lingkungan, Dua Sejoli Ini Enggan Naik Pesawat Saat Bepergian

[hijau]Emisi gas buang pesawat adalah sebuah kesalahan[/hijau] Klikhijau.com – Mata saya agak perih, namun tetap membaca ulang kisah Lorenz Keyßer yang baru berusia 23 dan Giulia Fontana, 27 tahun....

Demi Lingkungan, Dua Sejoli Ini Enggan Naik Pesawat Saat Bepergian
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Lantas pasangan ini merenungkan rencana perjalanan mereka dan memutuskan waktu yang tepat untuk berangkat. Mereka sadar, mereka akan pergi selama satu tahun penuh.

Bagi Giulia ini berarti ia harus mencari pekerjaan baru di Australia, sementara Lorenz akan menempuh studinya dari jarak yang amat jauh.

Setelah mereka mempelajari rute kereta dan menemukan bahwa perjalanan bisa dilakukan dengan menumpang kapal kargo, Giulia pun yakin bisa menghadiri hari istimewa sahabat baiknya.

Mereka memulai perjalanan pada akhir bulan Juni. Terlebih dahulu Giulia berangkat dari Zurich menemui Lorenz yang ada di Berlin.

Mereka meninggalkan Jerman melintasi Eropa menggunakan kereta – dari Berlin menuju Moskow via Plondaia dan Belarusia – hingga menuju Rusia, Mongolia, dan Cina.

Dari Beijing mereka selanjutnya menuju Qingdao untuk menumpang sebuah kapal kargo menuju Brisbane, di mana mereka akhirnya sampai enam minggu setelahnya.

"Sepertinya momen yang tak terlupakan adalah ketika kami berada di kapal kargo," imbuh Lorenz.

Perubahan secara sistemik

Lorenz dan Giulia adalah dua dari 360 orang yang berkomitmen untuk berhenti atau membatasi penggunaan pesawat terbang selama dua tahun terakhir dengan mengkampanyekan gerakan No Fly Climate Sci. Dan masih banyak lainnya yang membuat keputusan serupa.

Namun, Giulia dan Lorenz sadar betul perubahan ini tidak terjadi secara cukup cepat, dan ingin menyampaikan bahwa krisis iklim kini menuntut banyak pihak untuk berpikir ulang dalam menjalankan roda perekonomian.

"Walaupun tindakan individu itu penting, itu tidak akan cukup. Kita perlu perubahan secara sistemik," papar Lorenz.

Mereka juga meyakini bahwa cara mereka berpergian merupakan suatu keistimewaan. Hanya segelintir orang yang bergelimang kemewahan yang memilih mencemari bumi dengan emisi gas buang pesawat - kurang dari 20% populasi global pernah naik pesawat.

Perjalanan Giulia dan Lorenz membuat mereka sadar betapa beruntungnya mereka, terlepas dari isu ras, kewarganegaraan, disabilitas, orientasi seksual, dan strata, mereka mampu berpergian secara bebas dan aman melintasi dunia, menembus batas negara satu demi satu.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2