Dayak Iban, Penjaga Hutan Terdepan di Kapuas Hulu Kalimantan Barat

Klikhijau.com - Masyarakat Adat Dayak Iban Sungai Utik tinggal di rumah betang (panjang) yang memiliki panjang sekitar 200 meter terdiri dari 28 bilik (kamar) satu kamar bisa terdiri dari 1 sampai 3 K...

Dayak Iban, Penjaga Hutan Terdepan di Kapuas Hulu Kalimantan Barat
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Masyarakat Adat Dayak Iban Sungai Utik tinggal di rumah betang (panjang) yang memiliki panjang sekitar 200 meter terdiri dari 28 bilik (kamar) satu kamar bisa terdiri dari 1 sampai 3 KK.

Penghuni rumah betang ini merupakan masih satu ikatan keluarga. Rumah betang ini dibangun selama lima tahun, dari mulai tahun 1973 sampai selesai pada tahun 1978, adapun bahan material berupa kayu untuk pembuatannya diperoleh dari pohon hutan produksi. Rumah betang ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Perjalanan yang panjang harus kita tempuh untuk sampai ke rumah betang Suku Dayak Iban ini. Kalau menggunakan jalur darat, perjalanan dari Pontianak, harus ditempuh selama 18 jam atau sejauh 647 kilometer.

Waktu tempuh bisa dipersingkat dengan naik pesawat terbang dari Bandara Supadio Pontianak menuju Putusibau. Dari Putusibau, perjalanan dilanjutkan dengan bus atau kendaraan pribadi sekitar dua jam.

Sungai Utik secara administratif berada di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Di bagian utara Sungai Utik berbatasan langsung dengan Serawak sedangkan di bagian timur berbatasan dengan propinsi Kalimantan Timur, bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Sintang.

Sungai Utik secara adat merupakan bagian dari Ketemenggungan Jalai Lintang, sementara wilayah Ketemenggungan Jalai Lintang sendiri selain Sungai Utik meliputi Kulan, Ungak, Apan dan Sungai Tebelian. Komposisi demografi masyarakat di Sungai Utik mayoritas adalah Dayak Iban, demikian pula di Ketemenggungan Jalai Lintang.

Masyarakat Dayak Iban di Jalai Lintang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, baik lahan kering (umai pantai) ataupun lahan basah (umai payak).

Merekapun masih menjalankan ritual adat yang berkaitan dengan relasi antar manusia (kelahiran, perkawinan dan kematian) maupun relasi antara manusia dengan alam (adat ngintu menua, adat bumai, membuat rumah, tanah mali dan kampong mali).

Relasi antara manusia dengan alam menjadi penting di sini karena mendasari pandangan dan filososfi Masyarakat Dayak Iban dalam mengelola sumber daya alam dan manfaat bagi kehidupan mereka.

Menjadi menarik, di tengah maraknya eksploitasi dan konversi hutan menjadi pertambangan dan perkebunan ketika ada sebuah komunitas adat, Suku Dayak Iban Sungai Utik, yang masih memegang teguh aturan adatnya dan menolak tawaran investor untuk mengeksploitasi hutan adatnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2