Dari Pekarangan Sempit ke Mangkuk Hijau: Jejak Hidroponik Mahasiswa Unhas di Barombong

Dari Pekarangan Sempit ke Mangkuk Hijau: Jejak Hidroponik Mahasiswa Unhas di Barombong
Dari Pekarangan Sempit ke Mangkuk Hijau: Jejak Hidroponik Mahasiswa Unhas di Barombong. - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Matahari Agustus memancarkan hangatnya di Desa Barombong, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Di sela-sela riuhnya celoteh warga dan aroma tanah yang khas, sekelompok anak muda berjaket almamater sibuk memotong pipa PVC, mengukur debit air, dan merangkai media tanam sederhana. Hari itu, Senin (06/08/2026), suasana halaman menjelma menjadi laboratorium hidup, sebuah ruang di mana pengetahuan akademik berpadu rapat dengan kearifan lokal dalam semarak kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin Gelombang 116.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan kian terbatasnya ruang terbuka hijau, urusan bercocok tanam kerap kali terkendala oleh keterbatasan lahan dan pasokan air yang dinamis. Sebagian besar warga Desa Barombong sejauh ini masih menggantungkan asa pada metode budidaya konvensional yang membutuhkan hamparan tanah yang luas. Namun, sore itu, paradigma tersebut perlahan melunak ketika jemari warga mulai menyentuh spons lunak, merangkai instalasi pipa, dan menyemai bibit hijau pertama mereka tanpa menyentuh segram tanah pun.

Meretas Solusi dari Sela Pipa Sederhana

Melalui program fokus Pertanian dan Teknologi Tepat Guna, para mahasiswa Unhas menghadirkan sistem hidroponik sebagai wujud nyata solution journalism di tingkat akar rumput. Hidroponik bukan lagi istilah asing nan rumit yang hanya ada di dalam jurnal-jurnal ilmiah atau rumah kaca bernilai ratusan juta rupiah. Di tangan para mahasiswa, teknologi ini diterjemahkan menjadi instalasi ramah kantong yang dapat dirakit oleh siapa saja di sudut pekarangan rumah.

Koordinator Posko KKN-T Unhas, Ahmad Fadhil Fakhri, menuturkan bahwa gagasan ini lahir dari hasil pengamatan mendalam selama mereka tinggal dan berinteraksi dengan warga Barombong. Ketergantungan pada pola tanam tradisional di tengah penyempitan lahan pekarangan menjadi alasan utama perlunya sebuah terobosan yang membumi.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: