Celana Dalam Bekas, Permasalahannya, dan Cara Mengatasinya
Klikhijau.com – Celana dalam, pakaian paling privasi yang dimiliki setiap orang. Tidak ada yang rela memamerkannya. Bahkan saat dijemur pun, banyak yang mencari tempat yang jauh dari pandangan mata....
Klikhijau.com – Celana dalam, pakaian paling privasi yang dimiliki setiap orang. Tidak ada yang rela memamerkannya. Bahkan saat dijemur pun, banyak yang mencari tempat yang jauh dari pandangan mata.
Setiap orang setidaknya memiliki lebih dari dua celana dalam. Bukan hanya wanita yang memiliki atau memakainya tapi juga pria.
Pakaian jenis ini digunakan untuk menutupi di daerah tersembunyi “selangkangan”. Namun, ada satu masalah yang menggerogoti perihal pakian ini.
Pakaian dalam yang tidak lagi terpakai. Entah karena rusak atau sempit menjadi persoalan serius. Mendonasikannya pun rasanya tidak etis. Sedangkan membuangnya bisa mencemari lingkungan.
[irp]
Selain itu, banyak orang memang tidak rela membuangnya. Karena bisa membuka privasi. Akan sangat memalukan jika ada yang tahu atau melihat celana dalam yang sering digunakan. Karena itu celana jenis ini biasanya disimpan saja jadi penghuni lemari atau kardus.
Pemanfaatan yang minim
Pemanfaatannya setelah tidak lagi dipakai memang minim. Berbeda dengan jenis pakian yang lainnya. Baju misalnya, jika sudah tidak terpakai bisa saja dijadikan lap atau pa’boeng (pakaian yang digantung di sawah atau kebun untuk mengusir hama, khususnya burung pipit dan babi) oleh petani. Atau di tangan orangb kreatif bisa dijadikan pot bunga atau atap. Sementara pakaian dalam, tidak ada yang mau menjadikannya lap atau pa’boeng. Jika dijadikan pot atau atap tentulah masih mungkin. Karena akan tertutupi oleh semen. Sehingga penampakannya akan lebih samar. Persoalan limbah pakaian dalam memanglah rumit. Bayangkan saja, satu orang memiliki lima celana dalam bekas yang tidak terpakai. Jika lima dikali jutaan orang. Maka jumlahnya bisa saja menutupi daratan. Karena itu, persoalan ini patut carikan solusi. Pada masa pandemi Covid-19, celana dalam bisa saja beralih fungsi—tidak lagi menutupi selangkangan, tapi dijadikan masker untuk menutupi hidung dan mulut. Perihal ini (dijadikan masker) pernah dilakukan oleh John McAfee seorang taipan teknologi asal Amerika Serikat. Ia menggunakan masker dari thong saat ke negara Norwegia. Thong merupakan sejenis celana dalam wanita. Tindakan McAfee tersebut sontak menarik perhatian. Dan akibatnya ia ditahan petugas setempat. McAfee dan tak bisa melanjutkan perjalanan. Menjadikan celana dalam sebagai masker memang tampak simpel dan masuk akal karena memiliki pengait untuk dikaitkan di telinga. Tapi, tindakan serupa itu tidaklah etis dan sopan. Kembali ke persoalan limbahnya. Bagaimana solusi menanganinya. Membuangnya ke lingkungan tentu saja tidak dianjurkan karena akan menyebabkan pencemaran. Dibakar pun demikian, akan menyebabkan pula polusi udara. Jika disimpan, akan membuat rumah atau lemari tambah sesak. Lalu bagaimana solusinya? Berikut ini bisa Anda coba: [irp]-
Sulap jadi pengisi bantal
-
Dijadikan boneka
-
Sebagai media tanam
-
Jadi kantong-kantong kecil
-
Menganyam jadi keset
-
Jadikan kompos