Cahaya Buatan, Dapat Mengacaukan Kehidupan Dunia satwa
Klikhijau.com – Cahaya dan kehidupan. Dua hal tak terpisah. Namun, kebanyakan cahaya—tanpa adanya gelap. Kehidupan akan kacau balau. Kenapa demikian, karena gelap pun dibutuhkan untuk hidup, bukan...
Klikhijau.com – Cahaya dan kehidupan. Dua hal tak terpisah. Namun, kebanyakan cahaya—tanpa adanya gelap. Kehidupan akan kacau balau.
Kenapa demikian, karena gelap pun dibutuhkan untuk hidup, bukan hanya manusia, tetapi juga hewan atau satwa.
Namun demikian, cahaya khususnya cahaya lampu (buatan) akan sangat menganggu keseimbangan eksostem hewan, termasuk serangga.
Itu karena banyak serangga yang tertarik pada cahaya, tetapi cahaya buatan dapat menciptakan daya tarik yang fatal.
[irp]
Cahaya buatan dapat menurunkan populasi serangga. Sementara penurunan populasi serangga berdampak negatif pada semua spesies, khususnya mereka bergantung pada serangga untuk makanan atau penyerbukan.
Karena ketertarikan serangga pada cahaya, membuat beberapa predator memanfaatkan daya tarik ini untuk keuntungan mereka. Sehingga dapat mempengaruhi jaring makanan dengan cara yang tidak terduga.
Selama miliaran tahun, semua kehidupan mengandalkan ritme siang dan malam yang dapat diprediksi di Bumi. Ini dikodekan dalam DNA semua tumbuhan dan hewan. Manusia telah secara radikal mengganggu siklus ini dengan menerangi malam.
Tumbuhan dan hewan bergantung pada siklus harian ritme terang dan gelap Bumi untuk mengatur perilaku pendukung kehidupan seperti reproduksi, nutrisi, tidur, dan perlindungan dari pemangsa.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa cahaya buatan di malam hari memiliki efek negatif dan mematikan pada banyak makhluk termasuk amfibi, burung, mamalia, serangga, dan tumbuhan.
Namun keberadaan lampu buatan dapat mengganggu ekosistem dunia. Hewan nokturnal tidur di siang hari dan aktif di malam hari. Polusi cahaya secara radikal mengubah lingkungan malam mereka dengan mengubah malam menjadi siang.
[irp]
Menurut ilmuwan riset Christopher Kyba, untuk hewan nokturnal, ”penemuan cahaya buatan mungkin mewakili perubahan paling drastis yang dilakukan manusia terhadap lingkungan mereka”.
“Predator menggunakan cahaya untuk berburu, dan spesies mangsa menggunakan kegelapan sebagai penutup,” Kyba menjelaskan “Di dekat kota, langit berawan sekarang ratusan, atau bahkan ribuan kali lebih terang daripada 200 tahun yang lalu. Kami baru mulai mempelajari betapa drastisnya pengaruh ini terhadap ekologi nokturnal,” lanjutnya.