Daya Tarik Batu-batu sebagai Desa Berbudaya Lingkungan (Ecovillage)

oleh -80 kali dilihat
Daya Tarik Batu-batu sebagai Desa Berbudaya Lingkungan (Ecovillage)
Aktivitas pemuda di Batu-batu, Berau dalam mendorong desa berbasis ecovillage - Foto/Ist
drg. Rustan Ambo Asse Sp. Pros

Klikhijau.com – Malam itu langit di bumi batiwakkal memancarkan ribuan cahaya bintang. Seperti biasa kota Tanjung Redeb tentu tetap berbinar dengan lampu-lampu jingga dari berbagai cafe dan lapak kaki lima di tepian sungai segah.

Kota ini semakin tumbuh dan bergerak menyambut masa depan, menyulam harapan-harapan lebih baik

Ketika usai melakukan aktivitas rutin praktek, bergelut dengan hal-hal yang bersifat teknis seperti diagnosis, rencana perawatan gigi, edukasi preventif kesehatan gigi. Saya menerima kedatangan seorang anak muda yang kemudian mengajak berdiskusi panjang hingga larut malam terkait dengan konsepsi investasi yang tak biasa.

Anak muda itu bernama Sariadi Hamda. Ia bertutur bahwa Kabupaten Berau memiliki potensi alam yang luar biasa. Berau harus mempersiapkan diri menyambut masa depan yang lebih kompetitif. Harus ada langkah strategis untuk mempersiapkan tantangan ekonomi pasca tambang.

Dia berkisah bahwa ada satu konsep yang dia renungkan cukup lama, yaitu konsep investasi komunitas Batu-batu Ecovillage. Desa atau kampung Batu-batu terletak di Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau.

KLIK INI:  Hutan Pinus Tala-Tala Maros, Sensasi Layaknya di Musim Gugur dan Semi
Impian Sariadi mendorong Ecovillage

Sebelum menjadi sesuatu yang siap dipublish dan mengajak banyak orang untuk membangun komunitas investasi pada awalnya dia mengumpulkan ratusan pertanyaan dan jawaban sekaligus. Mulai dari aspek regulasi , keterlibatan ahli hingga relasi dengan pemerintah.

Baginya, investasi yang baik adalah yang bersifat berkelanjutan dan terintegrasi. Yang tidak hanya tumbuh dan berhenti pada kesejahteraan orang perorang.

Tapi investasi mesti memiliki kerangka filosofis yang tidak menimbulkan jarak antara manusia dan alam. Investasi yang justru membentuk ikatan harmonis antara alam dan manusia itu sendiri

Batu-Batu Ecovillage baginya menawarkan suatu sistem investasi yang terintegrasi dengan banyak hal. Selain memperhatikan aspek permacultur, keterjagaan dengan alam, zonasi ekologis, matahari ,air dan udara, investasi ini diharapkan menciptakan pertumbuhan ekonomi sirkular yang terbangun dari sebuah komunitas yang mandiri, saling menopang satu sama lain.

Setiap orang yang berinvestasi di Batu-Batu Ecovillage sejatinya menciptakan pemberdayaan ekonomi yang tidak hanya berdampak kepada dirinya sendiri, akan tetapi sekaligus kepada komunitas yang lain.

KLIK INI:  Taka Bonerate, Surga keanekaragaman Hayati di Selatan Sulsel

Kita membayangkan bahwa kelak luas tanah 80 hektar itu akan menjadi tempat berwisata, di sana denyut ekonomi tidak pernah berhenti.

Para pemilik kebun dan lahan akan sering berkunjung baik sekadar menikmati panorama alam dengan jejeran berbagai macam hasil alam. Rumah-rumah dengan desain khusus yang terintegrasi dengan visi Ecovillage berdiri di titik daerah tertentu.

Para wisatawan yang akan melancong ke kepulauan Derawan akan singgah menginap, berbelanja sayur dan buah segar di minimarket binaan pihak ecovillage.

Denyut ekonomi perikanan di tepian sungai ecovillage memiliki dinamika tersendiri. Di sana para pengunjung atau pemilik ecovillage dapat menikmati kuliner ikan bakar yang masih segar.

Dengan posisi Batu-Batu Ecovillage yang akan menghubungkan Kota Tanjung Redeb dengan Kepulauan Derawan sudah dapat dipastikan bahwa Ecovillage akan menjadi episentrum pariwisata di Kabupaten Berau

Ari menjelaskan dengan detail bahwa investasi yang seperti menurut tim ahli Ecovillage sebetulnya telah lama berkembang di luar negeri. Bahkan di negara seperti Finlandia dan Swedia konsep ekonomi sirkuler seperti telah lama berkembang, dan kita sangat ketinggalan akan hal ini.

KLIK INI:  Saatnya Masyarakat Sekitar Taman Prasejarah Leang-leang Berkarya

Selain itu investasi yang rencana dikembangkan ini adalah sebuah ajakan pemberdayaan komunitas yang ramah lingkungan. Jika selama ini seseorang menanamkan investasinya dengan cara membeli lahan dan mengelolah sendiri atau mendirikan bangunan, maka investasi di Ecovillage mesti lebih produktif. Produktif bagi pemilik, bagi pengunjung atau wisatawan ataupun bagi masyatakat setempat.

Mendorong investasi berkelanjutan

Oleh karena investasi ini membentuk komunitas yang setara, dan diharapkan menjadi sebuah investasi berkelanjutan. Maka pengelolaan sistem komunikasi, pemasaran dan interaksi komunitas telah dirancang lebih modern.

Pemanfaatan teknologi digital dan sistem pelaporan bagi anggota yang dapat diterima melalui aplikasi online menjadi sebuah fasilitas istimewa bagi pemilik nantinya.

Anda bisa bayangkan, jika kelak salah satu pemilik lahan hanya akan menerima laporan berupa sms bangking berupa income yang masuk dari sewa rumah atau harga sayur dan buah dari lahan miliknya.

Pemanfaatan teknologi yang berbasis online dan digital adalah sebuah pesona tersendiri bagi pemilik lahan di Batu-Batu Ecovillage.

Ketika malam itu semakin larut, saya berdecak kagum sekaligus bersemangat. Anak muda yang memiliki visi brilian di depan saya itu bagi saya adalah jawaban akan keringnya inovasi investasi yang biasa-biasa saja.

Kelak di kemudian hari ketika dua tahun ke depan dan denyut ekonomi sirkuler yang menjanjikan itu mulai bergerak, maka bagi saya hal ini dapat menjadi konsep yang akan diduplikasi di banyak daerah-daerah di Indonesia.

Di bawah cahaya temaram lampu jingga  yang mengantar diskusi kami hingga larut, dengan sepiring ubi goreng dan secangkir kopi hangat. Kami menyudahi diskusi itu dengan sebuah kesimpulan.

Batu-Batu Ecovillage Kabupaten Berau akan menjadi aset berharga bagi bumi Batiwakkal tercinta. Keberadaannya akan menjadi pemantik masa depan yang lebih cerah. Semoga!

KLIK INI:  Pesona Giethoorn, Desa Tanpa Polusi Kendaraan