Burung Julang Sulawesi, Si Petani Hutan Diambang Kepunahan

Klikhijau.com - Pulau Sulawesi merupakan salah satu pulau dengan jumlah hewan endemik yang cukup tinggi, tak terkecuali untuk spesies burung. Tanah Sulawesi menjadi rumah bagi 224 jenis burung, dimana...

Burung Julang Sulawesi, Si Petani Hutan Diambang Kepunahan
Bacakan Artikel

Jurnal Bio Wallacea (2019) menjelaskan bahwa Julang Sulawesi merupakan jenis burung yang termasuk dalam famili Bucerotidae dan merupakan jenis burung pemakan buah (frugivory).

Burung julang begitu menyukai buah-buahan kecil yang memiliki banyak biji. Karena kebiasaannya mengkonsumsi buah-buahan berbiji, maka dirinya kerap dijuluki sebagai petani hutan.

Julang kerap kali memuntahkan biji dari buah yang dimakannya. Biji-biji ini yang kemudian hari menjelma menjadi pohon kehidupan sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Selain itu, kehadiran burung julang di sekitar kawasan hutan menandakan kondisi hutan yang baik-baik saja. Sebab, biasanya julang sering bertengger di sekitar pohon besar yang memiliki peran penting di hutan.

Diambang kepunahan

Namun, nasib si petani hutan ini sebenarnya tidak baik-baik saja. Julang berada dalam ancaman kepunahan massal dalam beberapa puluh tahun kedepan akibat perburuhan dan berkurangnya habitat tempat tinggal mereka.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status burung ini masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable/VU) punah. Artinya, Julang memiliki 10 persen kemungkinan punah dalam jangka waktu 100 tahun ke depan..

Padahal perlindungan terhadap julang telah dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa jenis ini termasuk yang dilindungi.

Salah satu faktor penyebab status rentan pada Julang adalah maraknya aktivitas perburuan liar terhadap hewan langka ini.

Data dari Mongabay menjelaskan pada tahun 2013, terdapat 6 ribu paruh rangkong yang dijual di pasar global. Sementara, pada 2012 hingga 2019, diperkirakan sebanyak 3.480 paruh rangkong disita Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Tiongkok, dalam upaya penyelundupan.

Selain itu, selama beberapa tahun terakhir, transaksi penjualan julang begitu massif di media sosial. Pada 2016 lalu, seekor julang yang masih bayi di jual dengan harga 12 juta di grup facebook.

Dua tahun berselang, pada 2018 sebuah foto yang diunggah di facebook mendadak jadi sorotan publik setelah memperlihatkan 2 ekor julang dibopong dalam kondisi tewas ditembak senapan angin. Dan beberapa kejadian penyitaan lainnya yang dilakukan penegak hukum di sekitar kawasan hutan.

Padahal, Kelestarian Julang juga berdampak pada ekosistem hutan dan budaya masyarakat setempat.

Dalam artikelnya, Mongabay menjelaskan hubungan masyarakat Minahasa dengan burung julang yang dianggap sebagai hewan sakral. Julang, sebab paruhnya yang begitu besar, dianggap sebagai perwakilan dunia atas sehingga terdapat ritual khusus pemanggilan burung julang dalam masyarakat mereka.

Tugas berat berada di pundak pemangku kebijakan dan masyarakat umum, untuk menjaga kelestarian Julang dari ancaman kepunahan. Sehingga anak cucu kita kelak masih bisa merasakan cantiknya burung khas pulau Sulawesi ini.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2