Bunga Badaria di Musim Hujan

Hujan baru saja tumpah. Seorang perempuan berusia setengah abad baru saja pulang dari sawah. Orang-orang memanggilnya Daeng Ke’nang. Ia mengeluhkan air di sawah yang belum surut. Beberapa minggu ya...

Bunga Badaria di Musim Hujan
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

Hujan baru saja tumpah. Seorang perempuan berusia setengah abad baru saja pulang dari sawah. Orang-orang memanggilnya Daeng Ke’nang. Ia mengeluhkan air di sawah yang belum surut.

Beberapa minggu yang lalu ia telah menabur benih padi untuk dijadikan bibit, belum muncul pucuk daunnya, namun sudah terbawa oleh air meluap di pematang sawah yang cukup tinggi.

Banyak petani tidak ingin mengambil resiko, takut kehilangan benih di musim hujan yang sulit ditebak seperti halnya yang dialami perempuan itu. Padahal ia sudah menentukan waktu yang baik untuk menanam padi menurut perhitungan orang dulu. Mereka memilih menunggu musim hujan berjeda walau sawah telah ditraktor. Apalagi beberapa hari ini hujan turun dengan deras disertai petir yang bisa mengoyak tubuh.

Perempuan itu berlapang dada, baginya bertani selain sebagai sumber penghasilan juga sebagai hiburan. Perempuan berusia setengah abad itu tidak menikah. Tidak ada lelaki yang ingin mempersuntingnya di usia yang sudah cukup berumur. Namun, ia membesarkan seorang keponakannnya, anak dari saudaranya. Ia yang merawatnya dari kecil.

Sejak rumahnya masih menggunakan lampu teplok di sebuah rumah panggung. Sedang saudaranya mengadu nasib dan menikah kembali di kota untuk waktu yang lama. Hanya berkunjung sekali dalam enam bulan di kampung halaman.

***

Keponakan Daeng Ke’nang memiliki pesona seperti jamur yang bertumbuh dan menyebar di musim hujan. Badaria namanya. Kini ia bertumbuh sebagai gadis desa yang banyak dikagumi oleh lelaki.  Telah banyak yang datang melamar. Yang datang pun bergantian dan bukan orang biasa. Ada tentara, polisi, dan  pelaut. Tidak ada satupun yang memenuhi syarat.

Daeng Ke’nang merasa paling bertanggungjawab atas masa depan keponakannya. Termasuk lelaki seperti apa yang akan mendampingi hidup keponakan tersayangnya. Baginya tentara, polisi, dan pelaut hanya akan menjadikan keponakannya seorang “janda”.

Mereka semua akan pergi bertugas dan meninggalkan istri untuk waktu yang lama jika kelak menikahi Badaria.  Tidak jarang Daeng Ke’nang sering mendapat perkataan yang tidak menyenangkan dari keluarga pemuda-pemuda yang datang melamar sebagai perawan tua karena merasa kecewa lamaran mereka tertolak.

Daeng Ke’nang pernah memiliki trauma masa lalu yang sulit untuk dilupakannya. Sewaktu masih muda. Ia pernah menyukai seorang lelaki. Lelaki itu seorang pelaut. Lelaki itu berjanji akan menikahinya setelah pulang dari melaut. Bertahun-tahun lamanya Daeng Ke’nang menunggu. Akhirnya lelaki itu pulang, tapi bukan untuk menikahinya tetapi menikahi perempuan lain. Ia terpaksa merawat rasa kecewa itu.

Badaria remaja biasa menemani tantenya di sawah menanam padi atau membawakannya bekal dari rumah. Badaria pandai memasak. Sejak kecil ia sudah terbiasa di dapur. Daeng Ke’nang mengajarinya memasak, bercocok tanam; menanam padi dan sayuran, memanen padi dan memelihara binatang. Ia membekali keponakannya agar tidak terlalu berharap pada lelaki dan bisa hidup mandiri. Meski begitu Badaria tetaplah seorang perempuan, ada perasaan ingin dikasihi.

Badaria kerap menyembunyikan rasa kecewanya ketika setiap lelaki yang datang melamar ditolak oleh tantenya, Daeng Ke’nang. Ia ingin pergi dan menemui mamanya di kota yang sudah jarang pulang. Ia nekad meninggalkan rumah.

***

Diam-diam di malam hari Badaria mengemas bajunya. Ia meninggalkan rumah saat tantenya tengah terlelap tidur. Membawa segala rindu menemui mamanya. Badaria sangat bahagia bertemu mamanya setelah sekian lama tidak bertemu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2