Bunga Badaria di Musim Hujan

Hujan baru saja tumpah. Seorang perempuan berusia setengah abad baru saja pulang dari sawah. Orang-orang memanggilnya Daeng Ke’nang. Ia mengeluhkan air di sawah yang belum surut. Beberapa minggu ya...

Bunga Badaria di Musim Hujan
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

“Bagaimana kabar tantemu, Ria?”

“Sehat-sehat ma,”

“Apa tantemu tahu kamu ke sini?”

“Iya ma,” Terpaksa Badaria berbohong karena kalau tidak pasti mamanya akan marah.

***

Selama hampir sebulan tinggal di rumah mamanya, Badaria penasaran bagaimana kehidupan perkotaan. Ia berjalan sendirian menuju pusat perbelanjaan dan sepulang dari sana ia mampir di sebuah kafe. Di sana ia memesan segelas kopi Cappucino. Ia menyukai tempatnya, ketika bosan di rumah Badaria sering berkunjung ke kafe itu.
***

Di depan sebuah loket antrian PAY & ORDER HERE dalam kafe. Seorang pemuda duduk di kursi sofa dalam ruangan berAC sambil menyeruput secangkir kopi cappucino. Namanya Syah. Ia menikmati musik. Lagu-lagu yang membangunkan ingatan-ingatan lama. Sesekali melihat orang keluar masuk dari kafe. Ia memikirkan bagaimana judul skripsi yang akan diajukkannya sebelum pergi KKN dan project tulisan untuk dimuat di surat kabar.

September, musim hujan sudah lelah bersembunyi. Hujan begitu menggebu-gebu. Memantik kesunyian di balik kaca. Beberapa orang berlarian mengamankan helem mereka di motor. Seorang gadis berdiri di teras kafe tertahan untuk pulang oleh hujan dan menunggunya reda. Sesekali ia menengadahkan tangannya dan menyentuh hujan. Merapikan rambutnya yang terkibas angin.

Hujan seperti berupaya mengisahkan kisah perempuan yang tengah menanti hujan itu berhenti. Ia menggigil seperti kedinginan. Dan saya seperti pendengar yang menanti kisah-kisah itu berlanjut. Tetapi sayangnya hanya sebentar saja. Hujan berhenti dan perempuan itu juga bergegas pergi. Meninggalkan lengkum senyum yang terurai kemana-mana.

Keesokan harinya masih di tempat yang sama perempuan itu terlihat di balik kaca kemarin juga berada dalam kafe. Penampilannya terlihat ayu. Kami bertatapan beberapa detik. Namun sesaat setelah Syah membetulkan posisi duduk, perempuan itu tergesa menuju kasir dan keluar dari kafe. Sesekali melihat smartphone miliknya. Di luar sebuah motor telah menunggunya. Ia lalu naik pergi di tengah hujan yang masih merinitik. Syah berpindah tempat duduk dan mendapati sebuah coretan di sebuah potongan kertas. Nama dan nomor Watsapp.

***

Badaria mulai tidak nyaman dan enak hati berlama-lama di rumah Bapak tirinya. Ia kerap mendapat perlakuan tidak baik dari bapak tirinya. Bapak tirinya seperti terpesona dengan kecantikan Badaria. Kadang Bapak tirinya tiba-tiba berada dalam kamar yang ditempati Badaria saat mamanya tengah pergi bekerja.

Ia sendiri tidak tahu mamanya kerja apa dan dimana. Seperti ada aib yang coba disembunyikan oleh mamanya. Tantenya juga tidak pernah bercerita banyak tentang siapa Badaria. Dan Bapak kandungnya yang konon sudah tiada. Ia kerap mendapat perlakuan yang kurang baik dari keluarga Bapak tirinya. Badaria berpamitan ke mamanya untuk pulang tanpa menceritakan apa yang telah dialaminya. Mamanya mengantarkannya mencari mobil yang dapat mengantar anaknya kembali ke kampung. Mamanya memberi amplop yang berisikan uang untuk dibawa pulang.

Pikiran Badaria bercampur aduk. Sepanjang perjalanan ia merenung dan menyesal meninggalkan tantenya sendirian. Mendadak gerimis mampir di wajahnya. Ia merasa telah berbuat salah. Meninggalkan orang yang telah merawat dan membesarkannya. Di sisi lain ia teringat dengan wajah lelaki yang ditemuinya di kafe beberapa waktu lalu. Seperti ada yang mengganjal di kepalanya.

Segalanya terjadi begitu saja. Singkat cerita Syah iseng mengirimi pesan ke Badaria.

“Hai, selamat sore.”

“ Selamat sore,”

“Benar dengan Badaria?”

“iya benar, dengan siapa?”

“Saya Syah.”

“Syah yang mana?”

“Yang tempo hari ketemu di kafe.”

“Hmm...darimana dapatkan nomor ini?”

“Tidak sengaja saya dapat di kertas di meja waktu itu,”

“Maaf kalau saya mengganggu.”

***

Begitulah awal perkenalan Syah dan Badaria. Jika diceritakan lebih panjang akan memakan waktu yang lama. Semenjak perkenalan itu. Mereka kerap bertukar cerita dan pengalaman melalui chatingan watsapp dan telponan. Hingga suatu ketika Syah berkinginan menemui Badaria di kampungnya. Ia berjanji akan menemuinya sepulang dari KKN. Tetapi siapa yang menyangka Syah ditempatkan di lokasi di desa tidak jauh dari tempat tinggal Badaria.

Mereka sering curi-curi waktu untuk bepergian bersama. Di suatu senja di pematang sawah mereka bertemu memandangi padi-padi yang menghijau. Di antara pepohonan yang tumbuh meranggas. Daun-daun bergoyang diembus angin sepoi-sepoi. Menghampar keindahan alam yang bersahaja. Badaria melempar senyum. Lebih manis daripada madu hutan. Benih cinta telah menggetarkannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Syah mengutarakan isi hatinya kepada Badaria dan bermaksud menikahinya. Badaria terkesiap. Bunga-bunga yang tumbuh liar di sekitar sawah memancarkan pesona. Syah tidak peduli dengan latar pendidikan yang dimiliki Badaria. Yang hanya tamatan SMA. Dan nampaknya Daeng Ke’nang memberi restunya. Ia percaya mungkin sudah saatnya bagi Badaria menikah. Ia sudah dewasa dan menentukan sendiri nasibnya.

Badaria diikhlaskan seperti alam, yang akan merawat dan menentukan nasibnya sendiri—yang akan menumbuhkan apa saja saat hujan tiba.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2