Bicara di Webinar Klikhijau, Personel Polres Jeneponto Gaungkan Pemulihan Tanah Organik

Klikhijau.com -Komitmen nyata dalam mengawal masa depan pertanian berkelanjutan di Indonesia kembali menggema. Kali ini, sebuah narasi perubahan yang inspiratif datang dari institusi kepolisian melalu...

Bicara di Webinar Klikhijau, Personel Polres Jeneponto Gaungkan Pemulihan Tanah Organik
Bacakan Artikel
Klikhijau.com -Komitmen nyata dalam mengawal masa depan pertanian berkelanjutan di Indonesia kembali menggema. Kali ini, sebuah narasi perubahan yang inspiratif datang dari institusi kepolisian melalui sosok personel Kepolisian Resor (Polres) Jeneponto, Iptu Purwanto, S.E., yang kini menjabat sebagai Kapolsek Batang. Kiprahnya dalam memelopori dan mengedukasi pertanian organik berbasis kesadaran ekologis menjadi sorotan utama dalam forum diskusi nasional yang diselenggarakan secara daring.

Kehadiran perwira pertama Polri tersebut menjadi pembeda dalam Webinar Suara Aksi Volume II bertajuk "Masa Depan Narasi dan Aksi Pertanian Organik di Indonesia" yang digelar pada Selasa, 7 Juli 2026. Webinar yang dipandu oleh jurnalis Klikhijau.com, Arman Jaya, serta dibuka dengan opening speech dari Direktur Klikhijau.com, Anis Kurniawan, bertujuan membedah sejauh mana peran multipihak baik komunitas, pemerintah, media, maupun masyarakat dalam membangun kedaulatan pangan yang sehat dan ramah lingkungan. Selain Iptu Purwanto, webinar ini juga menghadirkan perwakilan dari Aliansi Organis Indonesia (AOI), Sukmi Alkausar, sebagai narasumber.

Lahir di Purworejo pada tanggal 18 Mei dari keluarga petani, denyut nadi pertanian tampaknya telah mengalir lama di tubuh Iptu Purwanto. Meski ia memilih jalan hidup dengan memulai karier kepolisian di Korps Brimob Polda Sulawesi Selatan dan telah bertugas menjelajahi Nusantara dari ujung Sumatera hingga ujung Papua, kecintaannya terhadap tanah tidak pernah luntur. Akar kultural sebagai anak petani menjadikannya sangat peka terhadap jerit payah para petani lokal di berbagai daerah penugasannya.

Sejak tahun 2016, Iptu Purwanto mulai menekuni dunia pertanian organik secara mendalam sembari konsisten mengajak masyarakat sekitar untuk beralih dari ketergantungan pupuk kimia. Baginya, tugas polisi tidak hanya sebatas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), melainkan juga hadir memberikan solusi konkret bagi ketahanan ekonomi dan kelestarian lingkungan tempatan.

Dedikasi tersebut kian mengkristal saat ia ditugaskan di bumi Papua. Pada tahun 2019, ia mendapatkan penghargaan (reward) prestisius dari Kapolri untuk mengikuti Sekolah Inspektur Polisi (SIP). Penghargaan itu buah dari ketulusannya membagikan pupuk hayati cair secara gratis serta merangkul warga lokal Papua untuk aktif bercocok tanam.

Langkah humanis Iptu Purwanto terus berlanjut hingga membawanya masuk dalam jajaran nominator Hoegeng Awards pertama pada tahun 2022 untuk Kategori Polisi Berdedikasi. Pengakuan di tingkat nasional ini diraih atas konsistensinya memproduksi dan menggratiskan pupuk organik hayati cair kepada para petani binaannya. Di tengah peliknya masalah kelangkaan dan mahalnya harga pupuk kimia, inisiatif membagikan pupuk organik ramah lingkungan ini laksana oase bagi komunitas petani kecil.

Melalui formula pupuk hayati cair andalannya yang diberi nama Bio Teratai, sebuah produk pembenah tanah dan nutrisi alami yang diolah menggunakan cairan maggot Black Soldier Fly (BSF), ia berhasil memulihkan kondisi lahan pertanian yang telanjur rusak. Dalam pemaparannya di webinar, Iptu Purwanto menguraikan secara gamblang potret permasalahan mendasar yang dihadapi petani saat ini. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan terus-menerus telah membuat kondisi tanah menjadi bantat, rusak, dan asam.

"Semesta ini secara alami sebenarnya sudah dirancang untuk memiliki keseimbangan. Masalahnya, mikrobia baik di dalam tanah bisa hilang akibat perlakuan yang salah dalam pemupukan kimiawi dan penggunaan pestisida berlebih. Oleh karena itu, demi mengembalikan keseimbangan ekosistem lahan, kita wajib mengaplikasikan kembali pupuk hayati sebagai pembenah tanah," urai Iptu Purwanto dalam webinar tersebut.

Ia mengibaratkan kerja pupuk organik hayati ibarat merestorasi tanah agar kembali berfungsi seperti spons yang gembur, membuat akar tanaman dapat jalan-jalan mencari nutrisi dengan leluasa, sementara miliaran mikroba di dalamnya bekerja secara gratis untuk menyuburkan tanaman. Cara pemakaiannya pun dinilai sangat praktis dan ekonomis bagi masyarakat luas.

Lebih dari sekadar memulihkan kesuburan tanah, gerakan pertanian organik yang diinisiasinya selama ini telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial-kemanusiaan yang masif. Bersama dengan kelompok petani binaannya, salah satunya Kelompok Tani Kanre Apia di Kabupaten Gowa, Iptu Purwanto menggerakkan aksi sosial bertajuk Sedekah Sayur. Hasil panen sayuran organik yang melimpah dan sehat secara rutin disalurkan kepada kaum duafa, puluhan panti asuhan, hingga para korban yang terdampak bencana alam di berbagai wilayah Sulawesi Selatan.

Hingga pertengahan tahun 2026 ini, akumulasi bantuan sayuran segar yang telah disalurkan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan tercatat telah menembus angka lebih dari 100 ton. Sebuah pencapaian luar biasa yang membuktikan bahwa pertanian organik tidak hanya bernilai ekologis tinggi, melainkan juga memiliki dampak sosial-ekonomi yang luar biasa bagi ketahanan sosial masyarakat.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow