Ballo Tala Jeneponto akan Jadi Bahan Baku Bioetanol

Klikhijau.com – Jika kamu pernah berkunjung ke Kabupaten Jeneponto, apa yang kau ingat tentangnya? Atau apa yang kamu perhatikan mengenainya? Saya sangat sering berkunjung ke daerah Selatan dari Makas...

Ballo Tala Jeneponto akan Jadi Bahan Baku  Bioetanol
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Jika kamu pernah berkunjung ke Kabupaten Jeneponto, apa yang kau ingat tentangnya? Atau apa yang kamu perhatikan mengenainya? Saya sangat sering berkunjung ke daerah Selatan dari Makassar itu.

Ingatan dan perhatian saya tak pernah lepas dari pohon lontar dan juga ballonya. Jika kamu pernah menelusuri jalan poros Jeneponto menuju Bulukumba, kamu akan temukan minuman yang digantung di pinggir jalan dalam kemasan botol plastik.

Sekilas minuman tersebut mirip dengan susu putih, tapi jangan terkecoh, itu bukan susu, tapi ballo atau tuak yang disadap dari pohon lontara atau tala’.

Masyarakat Jeneponto menjadikannya sebagai bahan baku pembuatan gula merah, dan tentu saja sebagian diminum. Konon ballo tala yang manis baik untuk kesehatan.

Kelayakan pengembangan Bioetanol dari ballo tala

Ballo tala, kerap mendapat tanggapan negatif dari banyak orang, sebab bisa menimbulkan efek mabuk kepada yang meminumnya. Tapi, anggapan negatif itu bisa luntur ke depannya. Sebab, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) RI sudah menyelesaikan studi kelayakan pengembangan Bioetanol dari ballo tala di  Jeneponto.

Ya, tim badan penelitian dan pengembangan pusat penelitian dan pengembangan teknologi ketenagalistrikan, energi baru terbarukan dan konservasi energi, menyimpulkan pohon tala Jeneponto memenuhi syarat untuk jadi bahan baku bioetanol.

"Saya baru mendengarkan hasil presentasi dari tim Kementerian ESDM, ternyata pohon lontar kita memenuhi syarat," kata inisiator Bioetanol Jeneponto, Mukhtar Tompo, Jumat, 22 Februari 2019 lalu.

Kementrian ESDM pun sudah merancang industri pengolahan ballo menjadi bioetanol. Pabrik bioetanol terintegrasi dengan kebun lontar/tala yang didekasikan untuk sumber bahan baku pabrik.

Karena ballo akan dikelola menjadi bioetanol melalui pabrik, maka tentu  dibutuhkan penderes atau petani penyadap ballo. Tak tanggung-tanggung dibutuhkan sebanyak 1.176 orang, tenaga kerja pabrik 80 orang dengan gaji rata-rata petani sebesar Rp 3 juta.

"Ini gajinya sudah lumayan kalau untuk petani karena selama ini penghasilan mereka tidak tetap," katanya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2