Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Bahu Hujan

Bahu Hujan   Aku mengenangmu sebagaimana kau dulu bersandar pada senja dan hujan rintik-rintik Lemparkan jaring kesedihan pada mata samuderaku yang tiada dasar Cahaya meringkusmu dalam tu...

Oleh Nona Reni 11 May 2024 13:05 2 menit baca

Bahu Hujan

  Aku mengenangmu sebagaimana kau dulu bersandar pada senja dan hujan rintik-rintik Lemparkan jaring kesedihan pada mata samuderaku yang tiada dasar Cahaya meringkusmu dalam tubuh perempuan Bukit-bukit hijau tampak bagai dunia yang terbentang pasrah Aku laiknya terowongan Burung-burung menghindar dariku Lalu malam membanjiriku dengan segala rahasia kegelapan Demi bertahan hidup, aku tak pernah selesai memandangmu sebagai semesta. Tempat bertumbuh beburung, tumbuhan, serangga dan mimpi-mimpi Sekali waktu aku ingin berbicara kepadamu Maka kau harus mendengarkan Mengawasi kata-kataku yang memanjat dari luka lama yang selalu bertunas hijau saat kena hujan senja Kita bahkan belum kehilangan apa-apa Meski senja telah berpamitan dari permainan masa kecil Sekonyong-konyong angin menderu, memukul-mukul seluruh ingatanku Kurasa aku melihat hujan melepas bajunya satu demi satu; telanjang Dan kita basah kuyup. Berkejaran dalam banjir dan tanah longsor. Bahu hujan terasa kokoh, bahu membahu merampas napas dari kehidupan Mei 2024 [irp]

Kepada Sobari

  Di langit senjaku, kau laksana segumpal mega Renungi bayang-bayang kusut, lentur kuning kecokelatan Pecah dalam arus di kepala Kepada Sobari, lelaki yang kucintai Aku telah menulis Soneta tak berjudul Seperti rumah yang menanti masa pensiunnya Rumah yang lahir ketika ia memberinya kehidupan dari napas pepohonan Oh Sobari Betapa lekas kubangun keteguhan Mengusir beribu-ribu mil jarak yang menelan kau di kejauhan. Dalam terik matahari yang legamkan kulit Aku ingin memandangmu dari sedikit dahan pohon yang tersisa, yang tak mampu menahan laju gerah Menyempurnakan celah hidupku bak kecambah bertumbuh jadi pohon baru, jadi kehidupan hijau Mei 2024 [irp]

Seperti Sampah di Pinggir Jalan

  Setelah laut, kutemukan garis pantai Karang dan camar di kejauhan Ikan berlompatan halau resah Atau barangkali berusaha mendulang sedikit mimpi di udara Angin berselimut sengat matahari Jatuh persis di wajahmu yang menyimpan risau Aku tak pernah berpikir alangkah menyedihkan sepanjang perjalananmu Meski tak pernah terlintas arah dan tujuan Seperti kapal, terapung-apung di tengah samudera Mengukur kehidupan itu sendiri dalam ukiran di gelas kaca Segugus duka memang sering bersarang di mata Mempertanyakan kenapa ia hidup tanpa pendidikan dan impian Tapi terkadang tanpa perlu jawaban Sebuah kisah harus tetap dituliskan, betapapun pahitnya Seperti sampah yang terus dibuang di pinggir jalan. Siapa pun berhak mencium baunya dan mencaci 2024
Topik terkait
#ekologi sastra #puisi lingkungan #hujan #puisi hujan