Bagaimana Cara Bahan Kimia dari Ban Kendaraan Masuk ke Makanan Kita?

Klikhijau.com – Ban kendaraan, baik mobil maupun motor terbuat dari karet. Jika sedang “mengaspal" akan terkikis dan menimbulkan serpihan-serpihan. Setiap serpihan akan mencari tempat baru, entah k...

Bagaimana Cara Bahan Kimia dari Ban Kendaraan Masuk ke Makanan Kita?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Ban kendaraan, baik mobil maupun motor terbuat dari karet. Jika sedang “mengaspal" akan terkikis dan menimbulkan serpihan-serpihan.

Setiap serpihan akan mencari tempat baru, entah karena terbawa angin atau air. Saat terbawa angin,  sangat mungkin berumah di parit, ladang, dan lahan pertanian.

Masalahnya, jika telah menyentuh dunia pertanian, maka masalahnya bukan lagi tentang serpihan. Lebih dari itu. Tentang kesehatan. apalagi Ban bukan hanya karet, tetapi produsen juga menambahkan aditif ke ban selama proses produksi, dan bahan kimia tersebut dapat larut kembali lama setelah partikel karet menempel di permukaan.

Bisa dibayangkan, diperkirakan 1,5 miliar ban diproduksi di seluruh dunia setiap tahunnya. Saat ban berputar, mengerem, dan berbelok, ban tersebut melepaskan partikel-partikel yang menumpuk di mana pun lalu lintas padat.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research menunjukkan bahwa fragmen-fragmen itu bukan sekadar sampah. Fragmen-fragmen ini mungkin merupakan paket bahan kimia yang dilepaskan secara perlahan, meresap ke dalam tanah, dan masuk ke dalam tanaman yang kita makan.

Para ilmuwan menyebutnya partikel aus ban sudah termasuk di antara sumber polusi mikroplastik terbesar di planet ini.

Studi terbaru yang  dipimpin oleh mahasiswa PhD Chao Gao dan Profesor Benny Chefetz di  Universitas Ibrani Yerusalem dengan mitra dari Universitas  Wina tersebut  bukanlah yang pertama menyoroti bahan kimia ban ada dalam makanan. Ada sebuah penelitian sebelumnya yang telah menemukan bahan kimia ban di dalam sayuran. Namun, sebagian besar percobaan tersebut memberikan bahan kimia tersebut langsung ke tanaman melalui air atau tanah yang telah diberi tambahan bahan kimia.

Para peneliti mencampurkan partikel ban asli ke dalam tanah pertanian pada kadar yang ditemukan di dekat jalan raya, antara 0,1 dan 1 persen berdasarkan berat. Kemudian mereka menanam dua tanaman umum di dalamnya, alfalfa dan selada.

Selama berbulan-bulan, mereka melacak enam bahan kimia yang diketahui berasal dari ban. Mereka mengukur bagaimana masing-masing bahan kimia tersebut berpindah dari partikel, ke dalam tanah, dan akhirnya ke dalam jaringan tanaman.

Pelepasan itu tidak terjadi sekaligus. Beberapa bahan kimia terlepas dari permukaan partikel lebih awal, sementara yang lain merembes keluar perlahan dari bagian dalam karet.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2