Biji Rumput
Kertas ini menyimpan kata yang telah ditulisi seribu tangan
Dari satu tangan
ke tangan lainnya
Kata yang berjatuhan ke bumi
Di sana
ia terus hidup, berkecambah, bertunas, b...
Biji Rumput
Kertas ini menyimpan kata yang telah ditulisi seribu tangan
Dari satu tangan
ke tangan lainnya
Kata yang berjatuhan ke bumi
Di sana
ia terus hidup, berkecambah, bertunas, berbuah, menua lalu mati
Tak jadi soal
jika biji-biji rumput menggenapi ritus samsara
Kehidupan, kelahiran, kematian
lalu memilih menjadi rumput atau menjadi pohon mahoni
Di hari-hari lain saat kesunyian datang
Kita tersadarkan betapa banyak celah kehidupan yang akan tampak
Bagai para pengembala
Yang mencoba mengikat luput waktu
Tak perlu bimbang akan amuk kegusaran
Sebab hujan pandai mengikuti jejak-jejaknya sendiri.
Sekarang musim
tanam jagung
Tapi marilah berdoa, semoga banjir tak segera tiba
Memupus semua mimpi yang telah lama terpupuk
2024
[irp]
Sepasang Doa
Di pagi sunyi
Ketika kabut berbisik lembut
Ronamu terlukis indah
Di timur sana
Hijau
pepohonan
Menari dalam lembayung cahaya
Kicauan pagi menjadi melodi harapan
Di sungai Walennae
Kehidupan mengalir tanpa jeda
Gemercik air membawa pesan kasih
Udara segar mengusap wajah dengan lembut
Namun
di balik keelokan ini
alam merintih pilu
Hutan yang dulunya lebat, kini gersang tandus tak terperi
Danau yang dulu jernih, kini keruh oleh noda
Udara yang dulu bersih, kian sarat polusi.
Kapan kita satukan tangan?
Rajut harapan
Merawat hutan
menjaga sungai
Seperti sepasang doa
Yang memberi tanpa meminta, menjaga tanpa berhenti.
2024
[irp]
Badai polusi
Di tengah alun-alun
kota
Kau berdiri gagah
Seperti raja
Rindang di tanah pusaka
Akarmu menjalar seperti tangan yang penuh kasih
Peluk bumi dengan cinta yang tiada bata
Daunmu rindang
Teduhkan segala lelah di jiwa
Di bawah naunganmu
Tak ada terik yang menggigit
Kau adalah cerita-cerita yang tak habis
Ajarkan keteguhan dan kedamaian yang abadi
Pada ranting-rantingmu, angin berbisik pelan.
Sampaikan pesan dari masa lalu
Tentang kehidupan yang begitu tenang
Sepanjang sejarah yang tertulis di akar dan batangmu
Lalu kini
Kulihat engkau merana
Diterpa badai polusi dan tangan jail manusia
Kulitmu yang kasar, terluka oleh waktu,
Keriput dan menua.
Tetapi harapan dan impianmu masih ada.
Mari kupeluk tubuh rentamu
Agar kau kokoh dan tetap tegak berdiri,
Menjadi saksi sejarah
Menjadi peri
penjaga bumi ini.
202
[irp]