Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Badai Polusi

Biji Rumput   Kertas ini menyimpan kata yang telah ditulisi seribu tangan Dari satu tangan ke tangan lainnya Kata yang berjatuhan ke bumi Di sana ia terus hidup, berkecambah, bertunas, b...

Oleh Nona Reni 15 Jun 2024 09:25 2 menit baca

Biji Rumput

  Kertas ini menyimpan kata yang telah ditulisi seribu tangan Dari satu tangan ke tangan lainnya Kata yang berjatuhan ke bumi Di sana ia terus hidup, berkecambah, bertunas, berbuah, menua lalu mati Tak jadi soal jika biji-biji rumput menggenapi ritus samsara Kehidupan, kelahiran, kematian lalu memilih menjadi rumput atau menjadi pohon mahoni Di hari-hari lain saat kesunyian datang Kita tersadarkan betapa banyak celah kehidupan yang akan tampak Bagai para pengembala Yang mencoba mengikat luput waktu Tak perlu bimbang akan amuk kegusaran Sebab hujan pandai mengikuti jejak-jejaknya sendiri. Sekarang musim tanam jagung Tapi marilah berdoa, semoga banjir tak segera tiba Memupus semua mimpi yang telah lama terpupuk 2024 [irp]

Sepasang Doa

  Di pagi sunyi Ketika kabut berbisik lembut Ronamu terlukis indah Di timur sana Hijau pepohonan Menari dalam lembayung cahaya Kicauan pagi menjadi melodi harapan Di sungai Walennae Kehidupan mengalir tanpa jeda Gemercik air membawa pesan kasih Udara segar mengusap wajah dengan lembut Namun di balik keelokan ini alam merintih pilu Hutan yang dulunya lebat, kini gersang tandus tak terperi Danau yang dulu jernih, kini keruh oleh noda Udara yang dulu bersih, kian sarat polusi. Kapan kita satukan tangan? Rajut harapan Merawat hutan menjaga sungai Seperti sepasang doa Yang memberi tanpa meminta, menjaga tanpa berhenti. 2024 [irp]

Badai polusi

  Di tengah alun-alun kota Kau berdiri gagah Seperti raja Rindang di tanah pusaka Akarmu menjalar seperti tangan yang penuh kasih Peluk bumi dengan cinta yang tiada bata Daunmu rindang Teduhkan segala lelah di jiwa Di bawah naunganmu Tak ada terik yang menggigit Kau adalah cerita-cerita yang tak habis Ajarkan keteguhan dan kedamaian yang abadi Pada ranting-rantingmu, angin berbisik pelan. Sampaikan pesan dari masa lalu Tentang kehidupan yang begitu tenang Sepanjang sejarah yang tertulis di akar dan batangmu Lalu kini Kulihat engkau merana Diterpa badai polusi dan tangan jail manusia Kulitmu yang kasar, terluka oleh waktu, Keriput dan menua. Tetapi harapan dan impianmu masih ada. Mari kupeluk tubuh rentamu Agar kau kokoh dan tetap tegak berdiri, Menjadi saksi sejarah Menjadi peri penjaga bumi ini. 202 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra dan lingkungan #ekologis sastra #badai polusi #pohon mahoni