Atasi Persoalan Sampah, BRIN Kembangkan Pilot Project PLTSa Merah Putih

Klikhijau.com โ€“ Persoalan sampah semakin rumit saja. Dihasilkan tiap hari. Sementara pengelolaannya minim. Akibatnya, lingkungan tercemar. Kesehatan terancam. Kerumitan itu coba diurai Badan Riset...

Atasi Persoalan Sampah,  BRIN Kembangkan Pilot Project PLTSa Merah Putih
Bacakan Artikel

Kapasitas listrik yang dihasilkan sebesar 700kW yang digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan internal. Hal itu karena fasilitas ini masih berstatus pilot project dan belum berada pada skala komersial.

โ€œDalam skala pengembangan penuh, potensi energi dari sampah perkotaan di kota besar seperti Jakarta dapat mencapai puluhan megawatt, tergantung pada volume dan karakteristik sampah,โ€ ungkap Wiharja.

Lima keunggulan

Teknologi yang dikembangkan BRIN memiliki beberapa keunggulan utama, antara lain:

  1. Sistem ini dirancang sebagai pembuktian bahwa sampah domestik di Indonesia bisa diolah dengan menggunakan teknologi dalam negeri.

  2. Berbasis riset nasional, sehingga lebih mudah disesuaikan dengan kondisi lokal dan kebutuhan daerahย 

  3. Adaptif terhadap karakteristik sampah Indonesia, yang umumnya memiliki kadar air tinggi dan belum terpilah dengan baik. Efisiensi proses yang ditingkatkan, melalui integrasi pra-perlakuan sampah.

  4. Fokus pada aspek lingkungan, termasuk pengendalian emisi dan residu hasil proses.

  5. Bisa ditingkatkan pada skala yang lebih besar sesuai dengan timbulan sampah Kabupaten Kota di Indonesia.ย 


[irp]

Secara teknologi, sistem pengoahan waste to energy melalui proses insinerasi merupakan sebuah pendekatan yang telah terbukti dan teruji secara luas. Negara-negara maju seperti Jerman, Perancis, China, Jepang, Singapura, dll, telah lama menggunakan pendekatan ini untuk mengolah sampah kota. Berdasarkan data World Bank, UNEP program WtE global teknologi insinerasi, menguasai pasar 78-79%.

Dengan teknologi proven tersebut BRIN mengadaptasi dengan menggunakan sampah Indonesia. Ke depan jika Kabupaten Kota di Indonesia ingin mengadopsi proses tersebut diperlukan beberapa catatan, antara lain: Ketersediaan dan kualitas pasokan sampah, Kebutuhan investasi awal dan biaya operasinya (Capex dan Opex), serta Penerimaan sosial dan isu lingkungan. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi PLTSa memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat.

PLTSa ini diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pengelolaan sampah terpadu di Indonesia. Teknologi ini tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan pada landfill, tetapi juga berkontribusi dalam penyediaan energi terbarukan.

[irp]

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: