Anak SMA, Imajinasi dan Sajak-Sajak yang Menghujam ke Bumi

Klikhijau.com - Sepanjang Sabtu (4 April 2019) hujan turun tipis dan awet. Di dalam gedung Rachmat Witoelar kantor P3E Suma, para siswa duduk manis mendengar sajak-sajak dibacakan peserta lomba secara...

Anak SMA, Imajinasi dan Sajak-Sajak yang Menghujam ke Bumi
Bacakan Artikel

[irp posts="4594" name="Meriah, Lomba Baca Puisi Tema Lingkungan Akan Diagendakan Setiap Tahun"]

Maka, sajak-sajak yang dibacakan bukan narasi biasa. Peserta memang diberi kebebasan memilih puisi (karya sendiri atau orang lain) yang dianggap temannya tentang lingkungan. Pilihan menafsirkan sebuah puisi bertema lingkungan adalah satu jembatan agar para siswa terbiasa mengeksplore teks.

Para siswa menemukan kata dan makna pada sebuah sajak. Mereka menjiwai sajak itu sebagai aspirasi, ekspresi dan orasi tentang bumi. Maka, sajak-sajak yang dibaca seolah menghujam ke bumi. Ke dalam jiwa yang mendengarnya, pada batin yang membacanya. Sebab, puisi yang dipilih dan dibacakan itu telah ditafsir maknanya lebih dulu.

Begitulah, sebuah puisi adalah bahasa jiwa yang diperlukan saat manusia lupa diri. Puisi berjelaga pada jiwa yang kering laksana hujan turun di hutan gersang. Pepohonan dan rerumputan tumbuh bertunas dan berkecamba, sebagaimana hati dan kesadaran yang terbangun dari kelupaan sekian lama.

Perjumpaan tiga dimensi

Pada lomba puisi yang digelar persis di momen Hari Bumi (22 April), Hari Puisi (28 April) dan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) adalah perjumpaan tiga dimensi. Dimensi ekologis, pendidikan dan sastra. Ketiganya bertemu dan saling mengait. Sudah saatnya institusi pendidikan memperkuat isu-isu ekologis agar generasi muda punya pemahaman dini soal pentingnya menaruh cinta dan kepedulian pada bumi.

[irp posts="4590" name="Dari Lomba Baca Puisi, Dewi Ingin Berjuang Menjaga Lingkungan"]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: