9 Puisi Sapardi Djoko Damono dengan Metafora Alam yang Menyentuh

Klikhijau.com – Puisi Sapardi Djoko Damono memiliki daya pikat yang kuat. Diksi yang digunakan sederhana namun memukau. Puisi Sapardi Djoko Damono banyak menggunakan metafora alam. Hujan Bulan Juni...

9 Puisi Sapardi Djoko Damono dengan Metafora Alam yang Menyentuh
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Ada yang berdenyut dalam diriku
Menembus tanah basah

Dendam yang dihamilkan hujan
Dan cahaya matahari
Tak bisa kutolak

Matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga

Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

mencintai angin
harus menjadi siut

mencintai air
harus menjadi ricik

mencintai gunung
harus menjadi terjal

mencintai api
harus menjadi jilat

mencintai cakrawala
harus menebas jarak

mencintai-Mu
harus menjelma aku

 

Hanya

hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu

hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu

Dalam Doaku

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

dalam magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
perlahan dari nun jauh di sana,
bersijingkat di jalan kecil itu,
menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh- nyentuhkan
pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya akutak pernah selesai
mendoakan keselamatanmu

 

Sajak Tafsir

Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
kepada sungai, ladang, dan batu.

Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin.

Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah,
tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu.

Tolong tafsirkan aku
sebagai daun terakhir
agar suara angin yang meninabobokan
ranting itu padam.

Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat
untuk bisa lebih lama bersamamu.

Tolong ciptakan makna bagiku,
apa saja — aku selembar daun terakhir
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika sore tiba.

Di Atas Batu

ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali…
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari…

ia pandang sekeliling
:matahari yang hilang – timbul di sela goyang daun-daunan,
jalan setapak yang mendaki tebing kali,

beberapa ekor capung — ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

 

Taman Jepang, Honolulu

inikah ketentraman? Sebuah hutan kecil:
jalan setapak yang berbelit, matahari
yang berteduh di bawah bunga-bunga, ricik air
yang membuat setiap jawaban tertunda

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2