Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun

Klikhijau.com - Chairil Anwar, penyair yang mati muda. Ia bergelar Binatang Jalang. Gelar itu terdapat dalam diksi dalam puisinya yang berjudul AKU. Pada puisinya itu, ada diksi “aku ini binatang jala...

Oleh Idris Makkatutu 23 Aug 2020 12:00 3 menit baca
Klikhijau.com - Chairil Anwar, penyair yang mati muda. Ia bergelar Binatang Jalang. Gelar itu terdapat dalam diksi dalam puisinya yang berjudul AKU. Pada puisinya itu, ada diksi “aku ini binatang jalang.” AKU adalah puisi lelaki kelahiran, 26 Juli 1922 tersebut yang paling terkenal. Ia menghiasi buku-buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah hingga perguruan tinggi. Chairil, salah satu penyair tersohor milik Indonesia. Bahkan, hingga saat ini karya-karyanya masih tetap eksis di dunia syair. Banyak puisi lelaki yang meninggak di Jakarta pada tanggal 28 April 1949 tersebut yang menggunakan metafora alam atau lingkungan. [irp] Jika kamu penasaran, Klikhijau telah merangkum 5 puisi Chairil Anwar yang menggunakan metafora alam pada beberapa baitnya:
Kawanku dan Aku
Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata…? Kawanku hanya rangka saja Karena dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti [irp]  
Derai-Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh Terasa hari akan jadi malam Ada beberapa dahan ditingkap merapuh Dipukul angin yang terpendam Aku sekarang orangnya bisa tahan Sudah berapa waktu bukan kanak lagi Tapi dulu memang ada suatu bahan Yang bukan dasar perhitungan kini Hidup hanya menunda kekalahan Tambah terasing dari cinta sekolah rendah Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan Sebelum pada akhirnya kita menyerah 1949 [irp]  
Yang Terampas dan Yang Terputus
Kelam dan angin lalu mempersiang diriku, Menggigir juga ruang di mana dia kuingin, Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tubuh Di karet, di karet sampai juga deru angin Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang Dan aku bisa lagi lepaskan kisah padamu Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku [irp]  
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh dipulau, Gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan melancar Di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar Angin membantu, laut terang tapi terasa Aku tidak kan sampai padanya Di air yang tenang, di angin mendayu Di perasaan penghabisan segala melaju Ajak bertakhta, sambil berkata: “tunjukkan perahu ke pangkuanku saja,” Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! Perahu yang bersama kan merapuh! Mengapa ajal memanggil dulu Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku! Manisku jauh dipulau, Kalau kumati, dia mati iseng sendiri [irp]  
Senja di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali Kapal, perahu tiada berlaut Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam Ada juga kelepak elang menyinggung muram Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendirian. Berjalan menyisir semenanjung Masih pengap harap Sekali tiba di ujung Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat Sedu penghabisan bisa terdekap [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra lingkungan #chairil anwar #puisi chairil anwar #puisi metafora alam