13 Tanaman Indonesia yang Potensial jadi BBN untuk Atasi Krisis Iklim

  Klikhijau.com – Bumi sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang melukainya. Krisis iklim adalah salah satunya. Penyebab lahirnya krisis iklim cukup banyak. Penggunaan bahan bakar energi...

13 Tanaman Indonesia yang Potensial jadi BBN untuk Atasi Krisis Iklim
Bacakan Artikel

Untuk melancarkan pelaksanaan program tersebut, Direktorat Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan (2015) telah menentukan tujuh kriteria jenis tanaman yang potensial untuk diproduksi menjadi BBN di Indonesia.


  1. Bahan pangan yang sudah surplus.

  2. Produktivitas tanaman.

  3. Rendemen BBN.

  4. Tanaman energi multiguna

  5. Kesiapan pengembangan tanaman.

  6. Kebijakan pemerintah.

  7. Lahan tidak bersaing dengan tanaman pangan atau kemudahan tumbuh di lahan marginal.


Nah, merujuk pada  tujuh kriteria dan produk tersebut Direktorat Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan menyebut ada 13 tanaman di Indonesia yang berpotensi  dimanfaatkan   memproduksi bioetanol dan biodiesel, yakni:



  • Jarak pagar



Produktivitas tanaman jarak pagar 5 hingga 10 ton/ha/tahun. Rendemen tanaman ini untuk diolah menjadi biodiesel sebesar 1.892 biodiesel/ha. Di Indonesia tanaman ini termasuk tanaman non pangan


  • Nyamplung



Sama seperti jarak pagar, nyamplung juga bukan tanaman non pangan. Produktivitas tanaman ini dalam setahun cukup tinggi, yakni 20 ton/ha/tahun. Rendemen tanaman untuk diolah menjadi biodiesel sebesar 2.200 biodiesel/ha.


  • Kemiri sunan



Kemiri sunan di Indonesia termasuk tanaman non pangan. Produktivitas kemiri sunan dalam setahun bisa mencapai 15 ton/ha. Sementara Rendemen tanaman non pangan ini untuk diolah menjadi biodiesel sebesar 6.000 biodiesel/ha.



  •   Kelapa sawit



Tananam ini adalah jenis tanaman yang sudah surplus di Indonesia untuk memenuhi bangan pangan. Dalam setahun produktivitas kelapa sawit 24 ton/ha dengan rendemen  untuk diolah  jadi biodiesel sebesar 5.950 biodiesel/ha.


  •  Kelapa



Tanaman ini termasuk tanaman yang juga  sudah surplus di Indonesia untuk memenuhi bangan pangan. Produktivitasnya adalah 1,2 hingga 7,5 ton/ha dalam setahun. Rendemennya  untuk dimanfaatkan menjadi biodiesel yakni sebesar 2.689 biodiesel/ha.


  • Pongamia



Tanaman ini adalah tanaman non pangan di Indonesia. ia memiliki produktivitas  7 sampai 29 ton/ha/tahun. Rendemennya untuk diolah menjadi biodiesel sebesar 3.600 hingga 5.000 biodiesel/ha.



  • Tebu



Tebu di Indonesia masuk ke dalam hitungan tanaman pangan yang belum surplus. Produktivitasnya dalam setahun sebesar 75 hingga 95 ton/ha. Untuk rendemennya  sebagai bahan olahan  bioetanol sebesar 5.000 hingga 6.000 bioetanol/ha.


  • Ubi kayu atau singkong



Dalam setahun produktivitas ubi kayu 30-40 ton/ha. Meski begitu, tanaman ini   termasuk tanaman pangan yang belum surplus.  Rendemennya jika ingin diolah menjadi bioetanol sebesar 4.500 bioetanol/ha.


  • Sagu



Sagu di Indonesia merupakan tanaman pangan surplus. Produksi sagu 25 t/ha/tahun. Rendemen jagung yang diolah menjadi bioetanol adalah 4.000-5.000 bioetanol/ha.


  • Sorgum



Di Indonesia sorgum merupakan tanaman non pangan. Hasil sorgum 30-50 t/ha/tahun. Rendemen dari pengolahan sorgum menjadi bioetanol adalah 5.000-6.000 bioetanol/ha.



  • Aren



Aren di Indonesia merupakan tanaman pangan yang belum surplus. Hasil aren 80 t/ha/tahun. Rendemen pengolahan tebu menjadi bioetanol adalah 11.428 bioetanol/ha.


  • Jagung



Di Indonesia jagung merupakan tanaman pangan yang belum mengalami surplus. Hasil jagung 8-14 ton/ha/tahun. Rendemen jagung yang diolah menjadi bioetanol adalah 5.000-6.000 bioetanol/ha.


  • Karet



Karet merupakan  tanaman non pangan. Produksi karet 1,7 t/ha/tahun. Rendemen karet yang akan diolah menjadi biodiesel adalah 353 biodiesel/ha.

Sahabat hijau, dari semua tanaman di atas,  kelapa sawitlah yang lebih banyak dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia sebagai BBN.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2