Yosepha Alomang: Lawan Freeport untuk Kesejahteraan Masyarakat Papua

Klikhijau.com โ€“ Tanah bagi orang Papua ibarat tubuh. Siapa yang berani merusak tanah berarti ia merusak tubuh. Tanah bagi rakyat Papua juga adalah seorang ibu dan air adalah sebagai susu ibu. Konek...

Yosepha Alomang: Lawan Freeport untuk Kesejahteraan Masyarakat Papua
Bacakan Artikel

Meski kehidupan pribadinya diliputi kesedihan, perempuan dari Suku Amungme tersebut tetap tegar bahkan menggerakkan sesamanya. Orang-orang Amungme yang naif tidak menyadari jika kehadiran Freeport adalah awal penderitaan dari kekayaan alam asli masyarakat Papua. Tanah mereka diambil tanpa permisi, yang kontra akan ditahan dan disiksa. Beberapa dibunuh atau dikejar hingga ke hutan.

Dia mengorganisasi masyarakat dan menyuarakan komunitas adat mendeklarasikan kemerdekaan untuk mengontrol Sumber Daya Alam mereka sendiri. Dia menggugat Freeport hingga ke pengadilan.

Freeport merusak lingkungan. Kehidupan Papua benar-benar dirusak. Dengan usaha itu dia yakin dapat memotivasi orang-orang lainnya untuk bertindak.

Tahun 1976 ketika terjadi kerusuhan besar di Freepot yang terletak di Tembagapura, para pemotres membakar pabrik. Pada saat itu Yosepha menjadi musuh nomor satu pihak yang merasa diganggu karena kegiatan aktivismenya, yakni Freeport. Yosepha sama sekali tidak ingin tanah Papua dikuasai dan dieksplorasi sedemikian rupa.

Ia tak hanya menghadapi Freeport saja, tetapi juga militer Indonesia di sana. Dia tak paham mengapa militer Indonesia sedemikian kasar. Tahun 1977 militer masuk di Wangki Baru, Timika. Turun dengan pesawat herkules. Tentara datang bukan untuk mengamankan Freeport tapi mengamankan masyarakat dan โ€œmemakan masyarakatโ€. Melawan pribumi manusia sendiri.

Seragam hijau masuk hingga ke rumah-rumah. Tidak ada yang berani bicara melawan miiter karena masyarakat dianggap tidak memiliki hak.

Yosepha selama hidupnya dari tahun 1983-1994 setidaknya telah dipenjara sebanyak 18 kali. Pada tahun 1994, Yosepha ditangkap karena dianggap sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Di sana ia disekap bersama 15 tahanan yang lain dan mesthi berada pada ruangan yang begitu tidak manusiawi.

Ruangan itu mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia diseret dan ditahan di ruangan yang penuh dengan tahi manusia. Dia masuk di sebuah ruang tinja setinggi lutut.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: