Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Yang Tak Pernah Khianat

Yang Tak Pernah Khianat   Ayah selalu yakin rebung penanda musim paling handal jika sembunyi di ketiak ibunya kemarau akan tiba lebih garang jika ia muncul menantang matahari hujan akan...

Oleh Idris Makkatutu 22 Jan 2022 07:00 2 menit baca

Yang Tak Pernah Khianat

  Ayah selalu yakin rebung penanda musim paling handal jika sembunyi di ketiak ibunya kemarau akan tiba lebih garang jika ia muncul menantang matahari hujan akan lebih panjang dari usia kenangan Bulan lalu ketika ayah ke kebun diperiksanya rebung di rumpun bambu dekat sumur itu rebung sembunyi di ketiak ibunya “Kemarau akan lebih panjang dari usia padi,” ujarnya girang Kegirangan beralasan kemarau panjang selalu membawa buah cengkih lebih merah Rebung telah jadi penanda musim yang tak pernah khianat sejak dulu, sebelum BMGK selalu mengeluarkan ramalan cuaca Tadi pagi, ayah menyeruput kopinya amat lesu hujan tak pernah alpa tiba jatuh bebas kuyupkan apa saja tak reda-reda tumbuhkan lumut-lumut di batu lapukkan rumah-rumah di kebun Ayah menatap pohon cengkih depan rumah matanya ikut mericik Kindang, Januari 2022 [irp]

Mitos Pelangi

  Hujan tiba tepat di ujung matamu menetes ke dalam mata hitammu mencipta warna paling kau benci :pelangi “Jangan menunjuk pelangi, telunjukmu akan terpotong,” Mitos itu bertumbuh, suburkan dirinya sendiri di ingatanmu dan kau mulai takut pada pelangi “Pelangi, jembatan bidadari menuju bumi,” Dan hujan adalah pengantar pelangi paling setia aneh, kau menyukai hujan Saat hujan, ibu bapakmu akan di rumah kau bisa leluasa memanja di pangkuannya Hati adalah daun-daun ikut ke arah mana angin berembus Sukamu pada hujan berubah ketika hujan mulamencuri jagung dari kebunmu membuatmu gagal panen Pelangi dan hujan, sepasang kekasih yang kau benci kini mereka rajin tumbuh di matamu Kindang, Januari 2022

[irp]

Rencana Belanja   Ini tahun ketiga cengkih malu-malu berbuah segala penandanya telah tiba lebih awal dari pada apa pun memupus segala rencana belanja tak ada kemarau buah cengkih, perlu kau tahu ikut di sinar matahari sementara matahari takut disergap hujan matahari hanya mengintip tak betah berlama-lama Tanya tumbuh subur di kepala kenapa hujan bersetia pada riciknya tapi gerah merasuk licin ke tubuh ini tahun ketiga, cengkih malu berbuah itu kabar buruk bagi percintaan kita ....tak ada uang panai.... Kindang, 22 Januari 2022 [irp]

Cuaca Buruk

  Dan aku telah jadi cuaca buruk paling kau hindari saat akan bepergian Dan kau pucuk bambu yang acap kutatapi Kindang, 22 Januari 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi #ekologi sastra #puisi lingkungan #sastra dan lingkungan