World Environment Day, Thomas Nifinluri: Jaga Harmoni Alam dan Manusia!

Klikhijau.com – Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati setiap tanggal 5 Juni di tahun berjalan, merupakan momen reflektif atas kondisi lingkungan. Seperti diketahui,...

World Environment Day, Thomas Nifinluri: Jaga Harmoni Alam dan Manusia!
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang diperingati setiap tanggal 5 Juni di tahun berjalan, merupakan momen reflektif atas kondisi lingkungan.

Seperti diketahui, beragam bencana alam dan masalah kesehatan merupakan imbas dari perlakuan tak harmonis manusia dengan alam semesta.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc, mengingatkan pentingnya menjaga harmoni. Pademi covid-19, kata Thomas, sejatinya telah menjadi pelajaran berharga bagi manusia.

“Tidak dapat dipungkiri pandemi global covid 19 telah merubah cara hidup manusia yang berdampak pada lingkungan dan keanekaragaman hayati. Covid 19 seolah menghipno bumi manusia dan satwa liar untuk masuk ketatanan hidup normal yang baru atau "new normal life",” ungkap Thomas.

Kondisi ini, lanjut Thomas, sejalan dengan tema World Environment Day 2020 yaitu "time for nature". “Misi bersama yang perlu kita bangun adalah bagaimana menjadi manusia yang sadar dalam merawat alam lingkungan dengan bijaksana,” tuturnya.

Menurut Thomas, Indonesia sebagai megabiodiversity country bagi 17% kehati dunia harus berkontribusi terhadap pelestarian bumi, alam  dan satwa liar. Tantangan terhadap degradasi hutan dan punahnya biodiversity harus disikapi dengan komitmen tinggi dalam upaya penanganan dan pelestariannya.

Seperti diketahui, keberadaan satwa sebagai penghuni hutan sangat penting, sebab jika satwa itu punah, akan mengganggu keseimbangan ekosistem di alam. Dalam laporan BBKSDA Sulsel, kepunahan lokal sejumlah satwa diantaranya diakibatkan kerusakan hutan seiring dengan dinamika pembangunan.

Dalam banyak kasus, masih ada persepsi dalam masyarakat yang masih menganggap satwa liar sebagai hama bagi industri perkebunan sehingga melegalkan adanya perburuan liar. Konflik satwa dan manusia juga kerap jadi kenyataan yang tak terhindarkan. Belum lagi masalah lain seperti perdagangan satwa liar dengan cara penyelundupan dan online trade (syber crime).

 

Temuan BBKSDA menunjukkan, ada lebih dari 95 persen satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Bahkan, beberapa jenis satwa endemik yang terancam punah beredar di pasar gelap.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2