Waspada, Polusi Udara Lebih Mematikan Daripada Rokok

Klikhijau.com - Ancaman polusi udara semakin nyata dan sulit dihindari. Setiap hari kita menghirupnya sehingga membuka gerbang penyakit menyusup ke dalam tubuh, yang bisa berakibat fatal. Ini dibuktik...

Waspada, Polusi Udara Lebih Mematikan Daripada Rokok
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Ancaman polusi udara semakin nyata dan sulit dihindari. Setiap hari kita menghirupnya sehingga membuka gerbang penyakit menyusup ke dalam tubuh, yang bisa berakibat fatal. Ini dibuktikan  sebuah penelitian yang menyatakan polusi udara kini membunuh lebih banyak daripada rokok.

Pencemaran udara diketahui dapat memengaruhi jantung dan sirkulasi darah dalam berbagai cara, terutama dengan merusak dinding pembuluh darah dan membuatnya menjadi lebih sempit. Pada akhirnya, itu akan mengganggu fungsi elektrik jantung dan penyumbatan darah.

Sebuah penelitian baru yang dipimpin ilmuwan dari Max Planck Institute for Chemistry ini dan dipublikasikan pada European Heart Journal menemukan hasil mencengangkan bahwa pencemaran udara bertanggung jawab atas sembilan juta kelahiran prematur setiap tahunnya. Angka ini meningkat dua kali lipat dari yang diperkirakan.

Sebuah data menunjukkan pencemaran udara menjadi penyebab 8,8 juta kematian. Di Eropa sendiri, diyakini ada sekitar 790 ribu orang yang mengalami kematian dini akibat udara buruk.

“Dengan ini, artinya polusi udara menyebabkan lebih banyak kematian ekstra dalam setahun dibanding rokok yang memicu 7,2 kematian pada 2015,” papar Profesor Thomar Munzel, peneliti dari Department of Cardiology at the University Medical Centre Mainz seperti yang ditayangkan Nationalgeographic.co.id, Senin, 18 Maret 2019 lalu.

Munzel juga mengungkapkan bahwa bahaya polusi udara karena tidak bisa dihindari. Ia bisa diemukan di mana-mana dengan tingkat kefatalan yang lebih tinggi bagi kesehatan dibandingkan rokok

“Merokok bisa dihindari, tapi polusi tidak,” ujarnya.

Di Eropa kematian  yang berkaitan dengan polusi, sekitar 40 ningga 80%-nya disebabkan oleh penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

Sementara itu, Profesor Jos Lelieveld, dari Max Planck Institute for Chemistry mengingatkan pentingnya menggunakan energi yang lebih bersih dan terbarukan, sebab bisa mengurangi angka kematian yang disebabkan polusi udara.

"Ketika menggunakan energi yang lebih bersih dan terbarukan, kita tidak hanya memenuhi Perjanjian Paris untuk mengurangi dampak perubahan iklim, tapi juga bisa mengurangi tingkat kematian terkait polusi udara di Eropa hingga 55%," tegasnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2