Warga Tamalanrea Bertaruh Nyawa Tolak Pembangunan PLTSa di Tengah Pemukiman

Warga Tamalanrea Bertaruh Nyawa Tolak Pembangunan PLTSa di Tengah Pemukiman
Warga Tamalanrea Bertaruh Nyawa Tolak Pembangunan PLTSa di Tengah Pemukiman. -Foto: Walhi Sulsel
Bacakan Artikel

Ancaman dampak kesehatan dan gangguan lingkungan hidup menimpa kelompok rentan di pemukiman tersebut, mulai dari anak-anak, lansia, hingga perempuan yang sehari-hari beraktivitas di radius terdampak. Kepala RW Mulabaru, H. Saleh, menekankan bahwa perjuangan ini murni untuk menyelamatkan daya dukung lingkungan pemukiman.

"Kita tidak sedang memperjuangkan kepentingan pribadi, tetapi sedang mempertahankan lingkungan, kesehatan, dan ruang hidup masyarakat Tamalanrea," tegas H. Saleh saat membakar semangat warga.

Penggalangan dukungan proyek ini juga diwarnai polemik klaim sepihak. Tokoh masyarakat Kampung Mula Baru, Hj. Palle, mempertanyakan angka dukungan 90 persen yang kerap disuarakan pihak-pihak tertentu di ruang tertutup tanpa mekanisme pengukuran yang jelas.

"Dari awal kita aksi, kita akan terus menyuarakan penolakan. Saya ingin menantang pihak yang menyatakan dukungan 90 persen itu. Jangan sembunyi di balik pintu. Mari kita buka secara terang-terangan kepada masyarakat, siapa yang mendukung dan bagaimana angka 90 persen itu diperoleh," lugas Hj. Palle.

Melihat polemik ini dari sudut pandang tata ruang dan lingkungan yang lebih luas, WALHI Sulawesi Selatan menilai terjadi kecerobohan sistemik dalam pemetaan lokasi. Staf WALHI Sulsel, Nurul Fadli Gaffar, menjelaskan bahwa penanganan krisis sampah perkotaan seharusnya memakai pendekatan lintas daerah berbasis kawasan Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar), bukan membebankan masalah pada satu titik pemukiman padat.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: