Wanatani, Sistem Pertanian dengan Aspek Sosial dan Ekologi yang Menjanjikan
Klikhijau.com – Sistem pertanian wanatani atau telah lama diterapkan di masyarakat. Khususnya perani kopi. Pohon kopi sebenarnya memiliki karakter yang unik. Pohon kopi menyukai bernaung di bawah...
Klikhijau.com – Sistem pertanian wanatani atau telah lama diterapkan di masyarakat. Khususnya perani kopi. Pohon kopi sebenarnya memiliki karakter yang unik.
Pohon kopi menyukai bernaung di bawah naungan pohon. Namun jika terlalu lebat—tanpa celah sinar matahari. Pohon kopi biasanya tak berbuah banyak.
Para petani kopi, termasuk di kampung say, Desa Kindang, Bulukumba paham tentang hal ini. Pemahaman itu bersifat alami. Tak ada ilmu tertentu—ilmunya berdasarkan pengalaman turun temurun.
Iya, sudah sejak zaman dulu menerapkan sistem pertanian wanatani atau agroforestry, yakni memadukan komoditas pertanian, semisal kopi dengan pohon.
[irp]
Perpaduan pohon kopi dengan pohon naungan adalah keniscayaan. Pohon kopi tanpa pohon naungan kurang subur. Bagai sayur tanpa garam—hambar
Maka ketika menanam pohon kopi, biasanya disertai pula dengan menanam pohon naungan. Bahkan ada yang menanam pohon naungan terlebih dahulu.
Jenis pohonnya pun bisa bermacam-macam, namun biasanya petani memanfaatkan pohon yang bisa berguna untuk bahan bangunan, seperti pohon sengong.
Penerapan wanatani memiliki aspek sosial dan ekologi. Dengan pola wanatani petani lebih bisa memaksimalkan lahan mereka, memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan.
Seingat saya, dulu ketika tanaman kopi masih jadi primadona di kampung saya—sebelum digantikan oleh cengkih. Pohon-pohon besar banyak terdapat di kebun warga.
Sekarang ini, pohon besar yang dulu menjadi naungan kopi perlahan menyusut. Sebab banyak petani yang lebih memilih menanam cengkih daripada memelihara pohon kopinya.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, di tahun 1993 atau sembilan 1994 kampung saya, Kindang, Bulukumba pernah diterjang angin kencang.
[irp]
Kedatangan angin kencang itu menumbangkan banyak pohon, bahkan merenggut nyawa salah seorang warga.
Setidaknya tercatat dua kali kampung saya diporak-poranda oleh angin kencang. Terjangan kedua terjadi pada tahun 1998.
Mendapat dua serangan angin kencang, membuat pohon kopi tak bisa menghasilkan banyak buah karena pohon naungannya banyak yang tumbang.
Dan yang kedua, harga kopi yang jatuh di pasaran. Inilah yang membuat petani kopi banyak yang menbang kopinya kemudian beralih menanam cengkih. Sedangkan cengkih adalah komoditas yang tak butuh pohon naungan.