Klikhijau.com - “Hanya hutan yang bisa menolong kami.” Sepenggal kalimat dari Yon, warga dari tanah Namblong, Kabupaten Jayapura yang datang untuk berbagi cerita bersama Vebbry, Ruth, dan Stebby dalam...
Klikhijau.com - “Hanya hutan yang bisa menolong kami.” Sepenggal kalimat dari Yon, warga dari tanah Namblong, Kabupaten
Jayapura yang datang untuk berbagi cerita bersama Vebbry, Ruth, dan Stebby dalam kegiatan
Makassar International Writers Festival (MIWF). Mengusung tema
Voice of Mama-Mama: Sastra, Foto, Ko-Kreasi sebagai Bahasa Bersama mereka bercerita tentang tanah ulayat seluas 53 ribu hektar yang tidak pernah betul-betul mendapatkan kebebasan.
Saya bersama puluhan peserta dengan seksama mengikuti diskusi kurang lebih hampir 2 jam dimulai sejak pukul 4 sore pada hari Sabtu (16/5/2026). Vebbry yang juga warga Namblong mengenang bagaimana sejarah yang mengubah wajah masyarakat adat di tahun 1970an. Hutan, bagi mereka merupakan pengetahuan, tempat membentuk cara berpikir, berpakaian, hingga pola makan bersumber.
Lokasi-lokasi di dalam hutan yang menggunakan penamaan lokal diganti namanya, tiang-tiang listrik, bangunan bata dan jalan-jalan baru terbangun di tanah leluhur. Selain itu hutan dibabat untuk dijadikan
perkebunan sawit. Pengetahuan adat yang telah terbentuk perlahan tergeser oleh pembangunan ala negara.
[irp]
“Hutan kami ditanami sawit, tapi kami tidak sejahtera,” ujar Vebbry dengan sedikit meninggikan suaranya.
Pembukaan lahan menjadi perkebunan sawit sendiri dilakukan oleh PT Permata Nusa Mandiri yang mendapatkan izin selus 32.000 hektar pada tahun 2012. Namun pada tahun 2022 Menteri LHK mencabut izinnya.
Greenpeace Indonesia sendiri menjelaskan jika PT PNM masih melakukan operasi sejak izinnya dicabut. Analisis spasial yang dilakukan oleh Greenpeace pada Januari hingga September 2022 terekam lebih dari 100 hektar hutan dibabat.
Penjara di Tanah Sendiri
Vebbry dengan menahan air matanya menceritakan nasib mama-mama di kampungnya. Hutan yang menjadi ruang aman berubah seakan seperti penjara bagi mereka.
[irp]
“Perempuan di kampung mengalami tekanan, ketika mau berkebun harus ada izin, kalau tidak ada itu direndam di lumpur,” terangnya dengan suara yang bergetar.
Ia mengingat kembali cerita-cerita orang tua yang mengisahkan pada waktu itu masyarakat harus mengungsi, mencari perlindungan dan bersembunyi jauh ke dalam hutan.
Dulunya, mereka tidak membutuhkan teknologi modern dalam mencari tanda alam. Mereka punya pohon yang dinamakan Pohon Kalender. Ketika daun pohon berwarna merah, maka menandakan datangnya musim panas. Saat daunnya hijau, maka itu tanda masuknya musim penghujan.
Namun sejak hutan-hutannya dibabat,
pohon-pohon tersebut juga musnah yang menyebabkan meraka sulit untuk memprediksi musim. Selain itu, pembabatan hutan menyebabkan bencana berkepanjangan bagi mereka. Air kali yang menyusut, banjir besar, hingga tanah longsor.
Padahal, bagi masyarakat adat di Namblong memegang teguh prinsip menjaga hutan itu sama dengan merawat diri. Di tengah kondisi hutan yang terus tergerus oleh pembangunan yang merugikan, mereka tetap memperjuangkan tanah ulayatnya, mempertahankan apa yang masih tersisa.
[irp]
Atap Sagu Diganti Seng
Diskusi yang penuh emosi itu lalu dilanjutkan oleh Ruth. Ia menyambung cerita dari Vebbry tentang hilang hutan dan identitas masyarakat adat. Pembangunan yang hadir di wilayahnya datang dengan wajah yang kaku. Atap sagu yang menjadi ciri khas mereka diganti oleh seng yang panas.
“Ketika pembangunan datang, diganti semua,” jelas Ruth sambil mengeluarkan air mata.
Ia melanjutkan jika standar kecantikan pun juga perlahan mulai tergeser. Rambut keriting yang menjadi ciri khas mereka dipaksa mengikuti standar budaya lain, rambut lurus. Rambut merupakan mahkota alami dan menjadi ciri khas mereka pun mendapatkan tantangan dan narasi baru akan
kecantikan.
[irp]
Mereka yang sadar dan tidak ingin ikut dalam arus standar kecantikan itu secara kolektif mendirikan organisasi perempuan adat. Sejak tahun 2019 mereka mengorganisir para perempuan dan mendirikan sekolah agar pada anak-anak Namblong kembali belajar dan menegakkan identitas mereka.
“Kami mendirikan sekolah agar mengenal jati diri kami dan belajar bahasa ibu,” ujarnya.
Mereka kembali mengidentifikasi sumber-sumber identitas yang perlahan mulai hilang. Noken, yang merupakan tas tradisional khas papua perlahan mulai hilang seiring dengan penebangan pohon-pohon yang seratnya menjadi bahan utama, Selain itu obat-obatan tradisional kian sulit untuk didapatkan, mereka harus jauh masuk ke dalam hutan untuk mendapatkan.
Identifikasi lainnya adalah kemampuan berkebun para generasi muda yang perlahan hilang. Padahal bagi mereka berkebun adalah nyawa yang harus dipertahankan.
“Dengan berkebun, kami bisa makan. Dengan berkebun kami bisa hidup,” terang Ruth yang diikuti oleh riuh tepuk tangan para penonton yang memadati ruangan.
Yon yang juga warga asli dari Namblong menekankan bahwa semangat perlawanan mereka tidak pernah padam. Setiap hari mereka memperdalam pengetahuan dengan masuk ke hutan, mengamati berbagai
flora dan fauna.
[irp]
Mereka menjadi saksi atas apa yang terjadi di hutan, menjaga hutan itu agar tetap lestari. Burung-burung Cendrawasih tetap menari dan menyanyi di hutan mereka. Hal itu membuat mereka, pada generasi muda dari Namblong terus memperjuangkan hak-hak adat yang terancam kehilangan eksistensinya.
“Kami punya kemampuan, kami punya pengetahuan. Kami bisa beradaptasi,” pungkas Yon.
Di akhir sesi, para narasumber menyimpulkan bahwa suara dari masyarakat adat harus terus diamplifikasi melalui berbagai bentuk. Setiap dari kita punya hak untuk bersuara dan meneruskan suara dari mereka.
Ketika suara itu memudar, maka tunggulah
bencana akan semakin cepat datang. Bisa jadi hari ini bukan kita, tapi ke depan, siapa yang tahu?
[irp]