Banjir Melanda Kalimantan, Greenpeace Indonesia Menyorot Deforestasi yang Masif
Klikhijau.com – Greenpeace Indonesia menyorot banjir yang menerjang Kalimantan Selatan sebagai satu fakta yang erat kaitannya dengan deforestasi yang kian masif. Alih fungsi lahan terjadi juga tela...
Klikhijau.com – Greenpeace Indonesia menyorot banjir yang menerjang Kalimantan Selatan sebagai satu fakta yang erat kaitannya dengan deforestasi yang kian masif.
Alih fungsi lahan terjadi juga telah menimbulkan masalah pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kehilangan sekitar 304.225 hektar tutupan hutan sepanjang 2001-2019. Hutan-hutan di Kalimantan sebagian besar telah menjelma jadi perkebunan sawit.
Arie Kompas (Juru Bicara Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia)mengatakan bahwa DAS itu merupakan wilayah yang seharusnya menampung air hujan di Kalimantan Selatan. Akibat tutupan lahan yang defisit setiap saat, kapasitas dan kemampuannya dalam menamung air berkurang.
"Kalau dari pantauan kita, 2001 sampai 2019 sekitar 304.225 hektar kehilangan tutupan hutan di situ. Itu yang menunjukkan daya tampung pendukung hutan di daerah itu sudah menurun drastis," katanya, dikutip dari CNNIndonesia, Senin (18/1/2021).
Menurut Arie Kompas, Kalimantan Selatan memiliki dua DAS yang berfungsi sebagai penampung air hujan dan pencegah banjir, yakni DAS Barito dan DAS Maluka. Keduanya berada di area Pegunungan Meratus.
[irp]
Faktanya, kata Arie, deforestasi di wilayah ini semakin parah dan sulit dibendung. Ini dipicu oleh adanya konsesi kelapa sawit sampai lubang tambang yang terus menjarah tutupan hutan di sana.
"Itu di bawah kaki Gunung Maratus dihajar sama sawit. Di sisi lain memang Banjarmasin masih terpengaruh pasang surut juga. Ketika air pasang akan memperparah banjir," tuturnya.
Laju deforestasi di Indonesia memang seperti hantu yang menakutkan dalam beberapa tahun terakhir. Data Forest Watch Indonesia dalam laporan "Angka Deforestasi Sebagai Alarm Memburuknya Hutan Indonesia", rasio hutan di Kalimantan hanya memenuhi 47 persen dari total daratan per 2017.
Angka deforestasi yang terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2000, tutupan hutan alam di Kalimantan mencapai 33,2 juta hektar. Kemudian turun menjadi 28,3 juta hektar tahun 2009, 26,8 juta hektar pada 2013 dan 24,8 juta hektar pada 2017.
Salah satu faktor dari penurunan luas tutupan hutan adalah masifnya jumlah konsesi yang memanfaatkan kawasan hutan dan lahan. FWI mencatat hingga 2017 terdapat 32 juta hektar hutan alam yang sudah dibebani izin berusaha.
Khusus untuk Kalimantan, besaran paling luas yakni 12,8 juta hektar hutan yang dilepas untuk izin usaha. Angka itu terdiri dari 5,2 juta hektar untuk Hak Pengusahaan Hutan (HPH), 756 ribu untuk Hak Tanaman Industri (HTI), 642 ribu untuk perkebunan kelapa sawit dan 1,5 juta untuk tambang.
[irp]
Juga ada 4,6 juta lahan hutan yang masih tumpang tindih antara izin untuk HPH, HTI, perkebunan kepala sawit dan tambang. Data ini belum termasuk area yang dikuasai oleh perhutani.
Guru besar dari Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Profesor Ngakan Putu Oka juga mengatakan, banjir terjadi karena penyebab yang kompleks, tetapi masalah tutupan lahan bisa saja jadi pemicu utamanya.
“Saya belum pernah melihat ada aliran permukaan di lantai hutan, kecuali di lantai hutan bekas kebakaran. Yang saya maksud ini tidak termasuk hutan dataran rendah luapan banjir (floodplain forest) yang biasanya ada di sekitar rawa-rawa pinggir sungai. Makanya saya selalu katakan, jika ada banjir bandang yang mendadak coba diperiksa di bagian hulu apakah tidak terjadi pembakaran lahan secara besar-besaran,” kata Oka.