Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Literasi Lingkungan

Menimbang Ulang Tren Pakaian Bekas, Mengapa Thrifting Impor Tak Selalu Jadi Solusi Krisis Lingkungan?

Oleh Reihan Zainal 23 Sep 2026 01:14 10 menit baca

Klikhijau.com - Thrift memiliki arti hemat. Thrift juga dapat dikatakan sebagai perilaku sangat berhati-hati dalam membelanjakan uang. Pakaian bekas saat ini sedang naik level. Banyak penjual mulai dari kios kios hingga ke thriftshop yang menjual pakaian bekas.

Thrift bukanlah trend yang terjadi setahun atau dua tahun lalu saja. Istilah thrifting sudah ada sejak tahun 1760 tepatnya pada saat revolusi industri, (Nugroho, 2023). Dan banyak dari kita yang tampa sadar turut menjadi konsumen aktif dari pasar Thrifting, entah itu thrifting sebagai pilihan rasional dalam berpenampilan ataupun thrifting sebagai Solusi terhadap kekhawatiran kita akan limbah fesyen.

Penggunaan pakaian bekas atau thrifting sering dikaitkan dengan ekonomi sirkular yang didasarkan pada mode berkelanjutan. Penggunaan pakaian bekas yang lebih banyak dapat membantu mengurangi limbah fesyen. Di negara-negara berpenghasilan menengah seperti negara kita Indonesia, minat terhadap pakaian bekas impor semakin tinggi.

Meskipun ada larangan dari pemerintah, perdagangan pakaian bekas impor masih populer di daerah perkotaan. Dalam tren ini, menarik untuk melihat apakah praktik penggunaan pakaian bekas berhubungan dengan dukungan terhadap fesyen berkelanjutan atau tidak, (Wulantari et al., 2025).

Industry fesyen menguras air

Hal yang menghawatirkan juga terlihat pada bagaimana industry fesyen menggunakan 93 miliar kubik air atau setara dengan pemenuhan air untuk lima juta orang. Menghasilkan sekitar 20 persen air limbah, serta menyumbang 10 persen emisi karbon setiap tahunnya, bahkan diprediksi meningkat sekitar 50 persen pada 2030.

Kondisi ini mengundang perhatian global karena berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan, sehingga muncullah konsep sustainable fashion. Sustainable fashion bertujuan mewujudkan industri fesyen yang ramah lingkungan, (Kirani,C.,&Santosa,S. 2023).

Penggunaan thirifting sebagai Solusi akan limbah fesyen juga menimbulkan anggapan pro dan kontra, terbukti bagaimana negara menelan kerugian yang cukup besar akibat ekspor pakaian bekas atau yang bias akita sebut sebagai thriftingg, hal ini tertulis jelas dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada pasal Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 40 Tahun 2022, impor barang berupa pakaian bekas dan bebas ini bisa  dikelompokkan sebagai barang  yang berbahaya yang beredar secara bebas tanpa adanya pengawasan yang dimana sangat merugikan konsumen, industri dalam negeri, pendapatan, serta perekonomian negara, (Wikansari et al., 2023).

Apakah Thrifting adalah solusi?

Kita sering menyebut thrifting sebagai sebuah solusi, padahal thrifting itu tidak selalu memiliki dampak, status hukum, atau manfaat ekonomi yang sama. Penggunaan kembali pakaian dapat mendukung ekonomi sirkular, tetapi impor pakaian bekas ilegal berpotensi merugikan industri domestik, mengurangi penerimaan negara, menimbulkan persoalan kesehatan, dan menjadikan Indonesia tempat pembuangan limbah tekstil, pakaian bekas impor juga tidak  dapat langsung bisa kita sebut sebagai fesyen berkelanjutan.

Jika pakaian tersebut masuk melalui jalur ilegal, tidak melalui pemeriksaan sanitasi, dan pada akhirnya tidak terjual atau tidak layak pakai, maka barang tersebut dapat berubah menjadi limbah. Oleh karena itu ungkapan penggunaan thrift sebagai Solusi akan limbah fesyen tidak dapat selalu dibenarkan, dan kita sebagai Masyarakat harus selalu pandai dalam mempertimbangkan narasi sebagai bahan acuan untuk di terapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan hal  tersebut, thrifting tidak dapat secara otomatis dipandang sebagai solusi terhadap limbah fesyen atau sebagai bentuk fesyen berkelanjutan. Penggunaan kembali pakaian memang berpotensi memperpanjang usia pakai produk, mengurangi kebutuhan terhadap pakaian baru, dan mendukung prinsip ekonomi sirkular. Namun, manfaat tersebut hanya dapat terwujud apabila pakaian benar-benar digunakan kembali dalam jangka panjang, menggantikan pembelian pakaian baru, serta dikelola melalui sistem yang betul betul di perhatikan, dan sudah semestinya kita sebagai Masyarakat untuk mampu lebih teliti memilah barang pemakaian sehari hari.

 

Topik terkait
Thrifting Sustainable fashion limbah