Tentang Kakapo, Nuri Endemik Selandia Baru yang Terancam Punah

Klikhijau.com - Kakapo adalah salah satu burung paling langka di dunia, berada di ambang kepunahan. Spesies nuri ini hanya ditemukan di beberapa cagar alam di Selandia Baru. Kakapo adalah satu-satu...

Tentang Kakapo, Nuri Endemik Selandia Baru yang Terancam Punah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kakapo adalah salah satu burung paling langka di dunia, berada di ambang kepunahan. Spesies nuri ini hanya ditemukan di beberapa cagar alam di Selandia Baru.

Kakapo adalah satu-satunya nuri yang tidak bisa terbang di planet ini. Jumlah populasinya saat ini adalah 211 ekor dan hanya terdapat pada empat pulau kecil di lepas pantai Selandia Baru.

Jumlah yang sedikit ini kemudian memicu inisiatif konservasi. Apalagi orang-orang Maori menjunjung tinggi hubungan spiritual yang kuat dengan kakapo, yang namanya diterjemahkan sebagai "kakatua malam".

Salah satu inisiatif, misalnya Predator Free 2050. Proyek untuk meniadakan predator di seluruh hutan Selandia Baru agar spesies endemik ini bisa berkembang lagi.

Musim perkembangbiakan kakapo antara Januari dan April 2019 tercatat, 70 anak yang lahir bisa bertahan hidup. Ini merupakan keberhasilan, kata Andrew Digby, penasihat sains kakapo Selandia Baru.

Meski demikian, sembilan ekor lainnya harus menyerah pada infeksi pernapasan yang disebabkan oleh jamur di udara (aspergillosis).

Awal hancurnya populasi kakapo

Sebelum tahun 1200-an, kakapo masih bebas dari ancaman manusia. Mereka hanya bersaing dengan beberapa spesies kelelawar saat mencari makanan.

Semua itu berubah setelah kedatangan orang Polinesia pertama di abad ke-13. Lagi lima abad kemudian, keadaannya semakin buruk saat permukiman Eropa dimulai.

Tane Davis dari tim konservasi kakapo suku Maori Ngai Tahu menjelaskan, orang Polinesia dahulu menggunakan bulu-bulunya untuk membuat jubah dan menjadikan tulangnya sebagai kail ikan.

Orang-orang Eropa mempercepat kematian kakapo dengan anjing pemburu, kucing, musang Inggris, rusa, bahkan posum Australia. Ditambah lagi, pembukaan hutan untuk membangun kota dan lahan pertanian.

Ini menjadi penyebab hilangnya habitat ekstrim yang menghancurkan populasinya dan hanya tersisa 51 ekor saja pada 1995.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2