Tangan-Tangan Cerdas Warga Lalombi, Sulap Masalah Lingkungan Jadi Peluang Ekonomi

Tangan-Tangan Cerdas Warga Lalombi, Sulap Masalah Lingkungan Jadi Peluang Ekonomi
Nasabah Bank Sampah Sintuvu di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, menunjukkan kartu tabungan sampah sebagai bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah pedesaan, Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pengelolaan sampah rumah tangga mulai membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Melalui Bank Sampah Sintuvu, warga tidak hanya didorong menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memanfaatkan sampah yang masih bernilai sebagai sumber tabungan keluarga.

Inisiatif ini hadir di tengah persoalan sampah yang masih dihadapi masyarakat. Keterbatasan tempat penampungan sementara, fasilitas daur ulang, dan sarana pengolahan membuat sebagian sampah berakhir di sungai dan laut. Sampah lainnya menumpuk di sekitar permukiman atau dibakar secara terbuka.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Sampah Sintuvu mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai dipilah dan dikumpulkan agar dapat dikelola dengan lebih baik.

Manfaatnya dirasakan langsung oleh sejumlah warga. Asnar memanfaatkan tabungan dari bank sampah untuk membantu kebutuhan pengobatan saat menghadapi kondisi darurat. Sementara itu, Saena menggunakan tabungannya untuk membeli beras dan kebutuhan dapur.

Misnawati juga pernah menarik tabungan sebesar Rp40 ribu untuk membantu memenuhi keperluan anaknya yang mengikuti lomba dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Pengalaman tersebut memperlihatkan, bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Meski nilainya tidak selalu besar, tabungan dari sampah bisa membantu keluarga memenuhi kebutuhan tertentu sekaligus membangun kebiasaan mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.

Sampah Rumah Tangga dan Peluang Ekonomi

Bank Sampah Sintuvu dikembangkan melalui pendampingan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula, mitra Yayasan KEHATI dalam konsorsium Program SOLUSI.

Pendampingan tersebut mencakup pemilahan sampah dari rumah, penguatan kapasitas kelompok, serta pembenahan tata kelola. Warga didorong untuk tidak lagi mencampur seluruh sampah rumah tangga, melainkan mulai memilah dan mengumpulkannya melalui mekanisme bank sampah.

Project Officer YKL Indonesia, Munifar Salim, mengatakan pengelolaan sampah perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari rumah tangga hingga pemerintah desa dan daerah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Penulis, Editor in Chief Klikhijau