SUSTAIN Desak Menteri Keuangan Baru Segera Terapkan Bea Keluar Ekspor Batu Bara

SUSTAIN Desak Menteri Keuangan Baru Segera Terapkan Bea Keluar Ekspor Batu Bara
Direktur Eksekutif SUSTAIN, Tata Mustasya. - Foto: Pribadi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan (SUSTAIN) kembali mendorong pemerintah segera menerapkan bea keluar atas ekspor batu bara. Instrumen fiskal ini dinilai tidak hanya mampu menambah penerimaan negara di tengah tekanan anggaran, tetapi juga menjadi sumber pendanaan awal bagi program energi surya 100 gigawatt peak (GWp) yang baru diluncurkan pemerintah.

c menyatakan bea keluar batu bara merupakan opsi paling realistis untuk mengurangi defisit fiskal akibat gejolak harga minyak dunia. Komoditas ini menerima keuntungan besar karena harganya ikut naik seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.

“Bea keluar atas ekspor batu bara menjadi opsi solusi yang paling viable untuk mengurangi defisit fiskal akibat gejolak harga minyak dunia. Pengenaan bea keluar bisa menambah penerimaan negara cukup signifikan,” kata Tata.

Perhitungan SUSTAIN menunjukkan potensi tambahan penerimaan Rp84,5 triliun hingga Rp353,7 triliun per tahun jika menggunakan harga acuan 2022-2024 dengan kurs Rp15.000 per dolar AS. Saat ini harga batu bara berada di kisaran US$140 per metrik ton, sehingga potensi penerimaan bisa lebih besar. Estimasi pemerintah dan lembaga independen lebih moderat, yakni Rp19–25 triliun per tahun dengan tarif 1–5 persen.

Angka tersebut dinilai cukup untuk menutup subsidi tidak langsung berupa restitusi PPN sektor batu bara yang mencapai sekitar Rp20–25 triliun per tahun. Restitusi ini muncul setelah status batu bara diubah menjadi barang kena pajak melalui UU Cipta Kerja, sementara ekspor tetap dikenai PPN 0 persen.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan