Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

SRUK, Upaya Mewujudkan Pasar Karbon yang Berkeadilan

Klikhijau.com –  Satu pertanyaan yang sering mengemuka tentang perdagangan karbon. Bagaimana sistemnya? Memang tidak mudah menjawabnya, tetapi dengan adanya Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang dil...

Oleh Tim Redaksi 10 Jul 2026 08:08 4 menit baca
Klikhijau.com –  Satu pertanyaan yang sering mengemuka tentang perdagangan karbon. Bagaimana sistemnya? Memang tidak mudah menjawabnya, tetapi dengan adanya Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang diluncurkan kemarin, Kamis, 9 Juli 2026. Maka sistem perdagangan karbon akan memiliki arah yang jelas. SRUK dimaksudkan sebagai  fondasi utama pengembangan pasar karbon nasional. Tujuannya untuk memperkuat ekosistem pasar karbon Indonesia agar berjalan secara transparan, kredibel, dan berintegritas. Langkah strategis ini dibangun secara langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). [irp] Keberadaan SRUK menjadi satu-satunya sistem nasional yang mengelola siklus hidup karbon secara terintegrasi, keberadaan SRUK diperkuat dengan terbitnya Peraturan Menteri LH/Kepala BPLH Nomor 10 Tahun 2026 tentang Sistem Registri Unit Karbon. Langkah ini juga selaras dengan Peraturan Menteri LH/Kepala BPLH Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penyelenggaraan Nationally Determined Contribution (NDC), dan Peraturan Menteri LH/Kepala BPLH Nomor 9 Tahun 2026 tentang Program Kampung Iklim (Proklim) untuk memastikan masyarakat tapak menerima manfaat adaptasi iklim. Melalui sistem berskala internasional ini, pemerintah memastikan bahwa setiap aksi penurunan emisi dapat diukur secara akurat dan dipertanggungjawabkan, sekaligus meminimalkan risiko penghitungan ganda atau kecurangan dalam perdagangan karbon. SRUK menurut Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat merupakan upaya KLH/BPLH untuk mewujudkan pasar karbon yang berkeadilan. "Sesuai semangat Asta Cita, SRUK akan menjadi simpul utama yang menghubungkan berbagai instrumen dan pelaku Nilai Ekonomi Karbon, untuk memastikan manfaat ekonomi dari nilai karbon yang kredibel dan berintegritas serta inklusif, dapat dirasakan hingga ke tingkat tapak, demi mewujudkan keadilan iklim bagi seluruh rakyat Indonesia," tegas Menteri Jumhur.” “Ini adalah komitmen kita semua pada prinsip no generation left behind: memastikan transisi hijau hari ini menjadi warisan kemakmuran, bukan beban bagi masa depan," tambah Menteri Jumhur. [irp]
Didukung lintas sektor
SRUK yang dikembangkan oleh KLH/BPLH turut mendapatkan apresiasi dan dukungan lintas sektor. Menteri Koordinator Bidang Pangan, selaku Ketua Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Zulkifli Hasan, menekankan pemerataan ekonomi dari karbon. "Pasar karbon yang berintegritas harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat di tapak. Mereka yang menjaga hutan dan ekosistem harus menjadi pihak yang pertama merasakan nilai ekonomi karbon," ungkap Menko Zulhas. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, turut mengapresiasi percepatan kolaborasi ini. "Saya menghargai kerja birokrasi yang mampu bergerak cepat dan rapi di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Pangan. Membangun pasar karbon membutuhkan kerja lintas sektor, dan kolaborasi seperti inilah yang menjadi modal penting agar Indonesia mampu menjadi pemain utama di pasar karbon global," ujar Hashim. [irp] Sebagai pelengkap dari sisi finansial, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, meperkuatnya dengan penerbitan POJK Nomor 10 Tahun 2026 yang mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025. "Regulasi ini merupakan wujud komitmen OJK untuk memastikan perdagangan karbon melalui bursa berlangsung secara transparan, berintegritas, dan memberikan pelindungan kepada investor serta seluruh pengguna jasa," pungkas Friderica. Dalam implementasi melalui SRUK, setiap unit karbon dalam sistem ini wajib melalui proses Measurement, Reporting, and Verification (MRV) yang ketat serta didukung verifikasi independen. SRUK juga dirancang dengan kemampuan interoperabilitas tinggi yang memungkinkannya terhubung dengan bursa karbon (IDX Carbon) dan sistem registri internasional. Kehadiran SRUK pun mendapat pengakuan internasional, salah satunya datang dari Managing Director CDSC, Alice Carr yang mengakui bahwa sistem ini dibangun menggunakan standar model data Climate Data Steering Committee (CDSC). "SRUK adalah salah satu best practice di dunia, telah mengadopsi prinsip-prinsip yang sejalan dengan standar internasional CDSC sehingga memiliki fondasi integritas yang kuat. Transparansi, akuntabilitas, dan kualitas data merupakan elemen utama dalam membangun kepercayaan pasar global, dan Indonesia telah mengambil langkah yang sangat baik ke arah tersebut," katanya. Kehadiran infrastruktur digital ini akan langsung mewadahi aset penurunan emisi nasional. Dalam skema Sertifikasi Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia (SPEI), KLH/BPLH mencatat adanya 49 proyek mitigasi dalam antrean (pipeline). Proyek-proyek yang berasal dari sektor energi, limbah, kehutanan, dan pertanian ini diestimasikan memiliki potensi penurunan emisi mencapai 5,85 juta ton CO₂e setiap tahunnya. KLH/BPLH optimistis bahwa kolaborasi lintas sektor yang mengokohkan Sistem Registri Unit Karbon ini akan membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan kepercayaan investasi hijau global, serta melindungi masyarakat akar rumput yang selama ini menjadi garda terdepan kelestarian alam. [irp]
Topik terkait
#Nilai ekonomi karbon #perdagangan karbon #keadilan iklim #klh/bplh #sruk