Siswa SMAN 1 Driyorejo Jadikan Hari Bumi sebagai Momentum Menyuarakan Masalah Lingkungan
Klikhijau.com - Bagi siswa SMAN 1 Driyorejo Hari Bumi 2026 jadi momentum untuk menyuarakan keresahan sekaligus menawarkan solusi nyata atas persoalan lingkungan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ha...
Klikhijau.com - Bagi siswa SMAN 1 Driyorejo Hari Bumi 2026 jadi momentum untuk menyuarakan keresahan sekaligus menawarkan solusi nyata atas persoalan lingkungan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Hal itu terlihat dalam dalam audiensi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik. Tiga siswa kelas X, yakni Junnatun Nafiah, Krisna Wahyu Sahaja, dan Chantika Amira Ramadhani. Ketiganya mengajukan program TEPAR (TPS3R, Polisi Sampah, dan Water Refill Station) sebagai upaya penguatan sistem pengelolaan sampah dan pengurangan plastik sekali pakai.
Usulan ini berangkat dari realita di lapangan tentang kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, sebenarnya sudah tinggi, namun belum didukung oleh sistem dan fasilitas yang memadai.
“Kami melihat masih banyak masyarakat yang bergantung pada plastik sekali pakai. Kami juga sering membawa tumbler, tetapi kesulitan menemukan fasilitas isi ulang air, sehingga akhirnya tetap membeli air kemasan,” ungkap perwakilan siswa.
[irp]
Temuan ini diperkuat oleh hasil angket siswa yang menunjukkan bahwa 98% responden telah mengetahui bahaya plastik sekali pakai, namun penggunaannya tetap tinggi karena faktor kepraktisan dan keterbatasan fasilitas pendukung. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan implementasi di masyarakat.
Adiwiyata: Bukan Sekadar Penghargaan
Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kabupaten Gresik, Muhamad Ainul Mubarak, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa program Adiwiyata harus dimaknai sebagai gerakan bersama, bukan sekadar capaian administratif. “Adiwiyata bukan sekadar piala. Ini adalah komitmen untuk membentuk karakter peduli lingkungan. Semua warga sekolah harus bergerak bersama—mulai dari pengelolaan sampah, penanaman pohon, hingga penggunaan air bersih secara bijak,” ujarnya. [irp] “DLH tidak bisa bekerja sendiri. Sekolah adalah mitra strategis dalam mewujudkan Gresik yang bersih dan hijau,” lanjutnya. SMAN 1 Driyorejo sendiri pernah meraih predikat Adiwiyata Mandiri, namun mengalami penurunan status karena tidak melakukan perpanjangan. Melalui audiensi ini, sekolah berupaya membangun kembali keberlanjutan program berbasis aksi nyata.Dari Nobar ke Gerakan Lingkungan
Menariknya, gerakan lingkungan di SMAN 1 Driyorejo tidak lahir dari program formal semata. Kegiatan sederhana seperti nonton bareng (nobar) video lingkungan justru menjadi pemantik kesadaran siswa. Berawal dari hanya nobar itulah, lama lama-lama mereka jadi tertarik dan ingin bergerak lebih jauh. Sejak saat itu, muncul berbagai inisiatif, termasuk gerakan sampah terpilah di sekolah. Bagi siswa SMAN 1 Driyorejo, sampah yang dicampur itu bau dan mengganggu. Akibatnya lingkungan belajar jadi tidak nyaman. Padahal siswa butuh ruang belajar yang bersih dan sehat. [irp]Usulan Program TEPAR
Program TEPAR yang diajukan siswa terdiri dari tiga komponen utama:-
TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle)
-
Polisi Sampah
-
Water Refill Station