SIEJ dan WRI Gelar Temu Editor, Bahas Ekonomi Rendah Karbon Pasca Pandemi

Klikhijau.com - Setelah pandemi Covid-19 berakhir, diperkirakan ekonomi akan bangkit dan pulih, termasuk di Indonesia. Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu mendorong pembangunan kemb...

SIEJ dan WRI Gelar Temu Editor, Bahas Ekonomi Rendah Karbon Pasca Pandemi
Bacakan Artikel

Menurutnya, transisi energi selain mampu menurunkan emisi karbon, juga dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup tinggi.

Perkembangan green economy di Amerika Serikat, misalnya, mampu menyerap tenaga kerja dan menghasilkan pertumbuhan pendapatan dari tahun ke tahun. “Dilihat dari perbandingan FTE dan revenue dari bisnis green economy,” katanya.

Hidayat Amir, Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mengkaji reformasi subsidi bahan bakar fosil sejak 2004. Hanya saja, kebijakan peralihan bahan bakar dari fosil ke EBT baru bisa dimulai di 2014.

Menurut Hidayat, konsumsi bahan bakar fosil menyebabkan Indonesia ketergantungan terhadap impor. Akibatnya, karena bahan bakar fosil, Indonesia ketiban persoalan ganda, peningkatan emisi karbon dan memberatkan negatif neraca dagang. “Transisi energi, jika itu keharusan kita bisa dan kita punya sumber dayanya,” ujarnya.

Amir menambahkan bahwa menurunkan emisi karbon, pemerintah sedang mengkaji pemberlakuan tax cabon serta kebijakan insentif dan disinsentif. “Carbon tax belum ada. Dan kita dorong. Ini kita bergerak dan kita melakukan progresif,” ujar alumni STAN tersebut.

Ekonom Senior WRI Indonesia, Sonny Mumbunan menambahkan, ancaman terbesar ekonomi akibat pandemi, bukan resesi melainkan perubahan iklim. Menurutnya, ekonomi Indonesia diperkirakan turun jika suhu meningkat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara-negara lain (GDP/kapita) turun, pada suhu 1,5 derajat celcius dan 2 derajat celcius, dibandingkan tanpa peningkatan suhu,” katanya.

Menurutnya, jika pemerintah mempertimbangkan Pembangunan Rendah Karbon Indonesia (LCDI) dalam pemulihan ekonomi pascapandemi, pertumbuhan ekonomi di 2022 - 2023 berpotensi di atas 5-6%. “Karena sekarang tidak bisa dipisahkan ekonomi dan lingkungan. Investasi lebih efisien, jumlah lapangan pekerjaan lebih besar,” katanya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2