Sampah, Ancaman Nyata bagi Dunia Wisata
Klikhijau.com – Ada hal yang tak pernah luput saya temukan tiap mengunjungi tempat wisata, khususnya wisata alam, yakni sampah. Bahkan, wisata alam berbasis budaya seperti Kawasan Adat Ammatoa, Kaj...
Klikhijau.com – Ada hal yang tak pernah luput saya temukan tiap mengunjungi tempat wisata, khususnya wisata alam, yakni sampah.
Bahkan, wisata alam berbasis budaya seperti Kawasan Adat Ammatoa, Kajang pun tak lepas dari serbuan sampah yang di dominasi sampah plastik.
Sampah plastik itu, mulai dari gelas minuman hingga pembungkus kerupuk. Semua menyatu dalam tanah dan membuatnya tak sedap di pandang mata.
Pun demikian ketika saya mengunjungi pasir putih Pantai Bira, yang saya temukan tetap sama. Sampah ditemukan di mana-mana.
[irp]
Pun begitu ketika mengunjungi pantai Mandala Ria, Bulukumba sampah plastik juga saya temukan. Juga di hutan mangrove Tongke-tongke, Sinjai, juga terdapat sampah plastik
Apalagi di pantai Losari Makassar, laut juga di huni sampah. Pun di pantai tak berpenghuni Larea-rea pulau sembilan, Sinjai juga dihuni sampah
Dan yang terbaru yang saya kunjungi, tempat wisata bendungan Kampili, Gowa yang saya kunjungi beberapa waktu lalu pun demikian, sampah menjadi pemandangan khas yang mencemaskan.
Mengenai sampah plastik yang dominan ditemukan di tempat wisata, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya pun mengakui hal itu, Minggu, 10 November 2019.
Menurutnya dari segi ancaman terhadap upaya konservasi dan pariwisata, sampah plastik adalah sampah yang paling dominan ditemukan di destinasi wisata, khususnya Taman Nasional, baik di gunung maupun di laut, dan paling sulit terurai.
Ia juga mencontohakn destinasi seperti Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, sebanyak 56% sampah merupakan sampah plastik, sementara sampah organik hanya 14%. Sementara komposisi sampah nasional pada 2018, sebanyak 57% sampah organik dan hanya 15% sampah plastik.