Sambut Tren Wisata Alam Virtual sebagai Adaptasi di Masa Pandemi
Klikhijau.com - Wisata alam secara virtual memang lagi marak belakangan ini. Kita lihat, ada sejumlah pegiat wisata alam yang membuka ruang virtual melalui sosial media untuk mengundang pemirsanya men...
Klikhijau.com - Wisata alam secara virtual memang lagi marak belakangan ini. Kita lihat, ada sejumlah pegiat wisata alam yang membuka ruang virtual melalui sosial media untuk mengundang pemirsanya menelusuri satu destinasi tertentu.
Ini tentu satu tren menarik, khususnya di masa pandemi. Menjelajahi suatu spot wisata alam meski di ruang virtual boleh jadi punya sensasi khas yang cukup berbeda bila jelajah langsung dilakukan.
Di sisi lain, wisata virtual juga bisa jadi adaptasi baru mengantisipasi keterbatan akses karena pandemi. Topik ini pula yang kemudian jadi perbincangan dalam diskusi Pojok Iklim dengan topik "Wisata Alam Virtual di Masa Pandemi" yang digelar pada Rabu (14/2/2021).
Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Sarwono Kusumaatmadja, dalam sambutan diskusi mengatakan betapa di masa pandemi COVID-19, kita berada pada suasana yang sangat dilematis. Di satu sisi, kita harus membatasi kegiatan, di sisi lain ekonomi pun tetap harus bergerak, termasuk di bidang wisata.
Faktanya, Indonesia memiliki destinasi unggul kelas dunia yang sebenarnya potensial dan menjadi andalan selama ini. Perkembangan teknologi informatika dinilai bisa dijadikan jalan keluar dengan mendorong wisata virtual.
[irp]
“Melalui wisata virtual kita dapat menyaksikan keindahan alam, keanekaragaman hayati. Sehingga bisa membangkitkan aktivitas merasa dekat dengan alam yang merupakan suatu sikap penting yang perlu ditumbuhkan untuk pembangunan berkelanjutan. Wisata virtual akan menjadi marketing tool atau pemicu peningkatan wisata di masa normal baru,” tuturnya.
Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Nandang Prihadi, mengatakan akibat adanya pandemi COVID-19, wisata alam ke kawasan konservasi ditutup. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran COVID-19, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.
Dampak penutupan wisata alam ini menyebabkan terhentinya operasional pelaku usaha wisata alam, hilangnya potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan berkurangnya perputaran ekonomi dari kegiatan wisata alam di kawasan konservasi.
Namun demikian, Nandang mengatakan, dengan adanya pandemi berdampak positif bagi alam, dan memberikan waktu untuk alam beristirahat dari hiruk pikuk pengunjung, dan memulihan ekosistem secara alami.
“Tren wisata kedepan memiliki strategi 3C (Community, Commodity dan Conservation). Commodity, yaitu bagaimana agar tidak tergantung pada Taman Nasional (TN) atau Taman Wisata Alam (TWA) tetapi harus ada alternatif obyek daya tarik wisata alam di sekitar TN dan TWA, karena akan ada pemberlakuan kebiasaan baru yang lebih ketat. Unsur Conservation di TN atau TWA seperti pembatasan mass tourism. Selanjutnya Community atau masyarakatnya perlu disiapkan dalam menghadapi kebiasaan baru,” jelas Nandang.