Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Sambut Tren Wisata Alam Virtual sebagai Adaptasi di Masa Pandemi

Klikhijau.com - Wisata alam secara virtual memang lagi marak belakangan ini. Kita lihat, ada sejumlah pegiat wisata alam yang membuka ruang virtual melalui sosial media untuk mengundang pemirsanya men...

Oleh Tim Redaksi 15 Apr 2021 14:47 4 menit baca
Klikhijau.com - Wisata alam secara virtual memang lagi marak belakangan ini. Kita lihat, ada sejumlah pegiat wisata alam yang membuka ruang virtual melalui sosial media untuk mengundang pemirsanya menelusuri satu destinasi tertentu. Ini tentu satu tren menarik, khususnya di masa pandemi. Menjelajahi suatu spot wisata alam meski di ruang virtual boleh jadi punya sensasi khas yang cukup berbeda bila jelajah langsung dilakukan. Di sisi lain, wisata virtual juga bisa jadi adaptasi baru mengantisipasi keterbatan akses karena pandemi. Topik ini pula yang kemudian jadi perbincangan dalam diskusi Pojok Iklim dengan topik "Wisata Alam Virtual di Masa Pandemi" yang digelar pada Rabu (14/2/2021). Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Sarwono Kusumaatmadja, dalam sambutan diskusi mengatakan betapa di masa pandemi COVID-19, kita berada pada suasana yang sangat dilematis. Di satu sisi, kita harus membatasi kegiatan, di sisi lain ekonomi pun tetap harus bergerak, termasuk di bidang wisata. Faktanya, Indonesia memiliki destinasi unggul kelas dunia yang sebenarnya potensial dan menjadi andalan selama ini. Perkembangan teknologi informatika dinilai bisa dijadikan jalan keluar dengan mendorong wisata virtual. [irp] “Melalui wisata virtual kita dapat menyaksikan keindahan alam, keanekaragaman hayati. Sehingga bisa membangkitkan aktivitas merasa dekat dengan alam yang merupakan suatu sikap penting yang perlu ditumbuhkan untuk pembangunan berkelanjutan. Wisata virtual akan menjadi marketing tool atau pemicu peningkatan wisata di masa normal baru,” tuturnya. Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Nandang Prihadi, mengatakan akibat adanya pandemi COVID-19, wisata alam ke kawasan konservasi ditutup. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyebaran COVID-19, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Dampak penutupan wisata alam ini menyebabkan terhentinya operasional pelaku usaha wisata alam, hilangnya potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan berkurangnya perputaran ekonomi dari kegiatan wisata alam di kawasan konservasi. Namun demikian, Nandang mengatakan, dengan adanya pandemi berdampak positif bagi alam, dan memberikan waktu untuk alam beristirahat dari hiruk pikuk pengunjung, dan memulihan ekosistem secara alami. “Tren wisata kedepan memiliki strategi 3C (Community, Commodity dan Conservation). Commodity, yaitu bagaimana agar tidak tergantung pada Taman Nasional (TN) atau Taman Wisata Alam (TWA) tetapi harus ada alternatif obyek daya tarik wisata alam di sekitar TN dan TWA, karena akan ada pemberlakuan kebiasaan baru yang lebih ketat. Unsur Conservation di TN atau TWA seperti pembatasan mass tourism. Selanjutnya Community atau masyarakatnya perlu disiapkan dalam menghadapi kebiasaan baru,” jelas Nandang.
[irp]
Bersiap berwisata secara virtual
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Murlan Dameria Pane menyampaikan bahwa dalam merespon PSBB, TNTP membuat video untuk mengobati kerinduan para calon pengunjung, tentang bagaimana cara mengunjungi TNTP dengan kebiasaan baru. “Virtual Tour mungkin tidak bisa sama dengan kunjungan fisik. Namun dapat mengobati rasa rindu kita terhadap objek wisata alam,” ujar Murlan. Selanjutnya, Co-founder Jagaddhita dan 'Perkumpulan' untuk Interpretasi Indonesia ('P’InterIn), Wiwien T. Wiyonoputri menyampaikan bahwa virtual tour memiliki spektrum, layaknya warna. Dari spektrum bentuk pengalaman, Virtual Tour tidak menggantikan pengalaman wisata yang sesungguhnya, namun bermanfaat bagi banyak orang dan tempat dengan keterbatasan. "Dari spektrum karakter acara, Virtual Tour itu engaging dan interpretif, yang sangat memikat serta melibatkan pengunjungnya." tambahnya. Founder Sebumi, Iben Yuzenho menyampaikan bahwa konservasi tidak harus dilakukan di tempat yang jauh dan pesan tersebut bisa disampaikan dengan mendorong perubahan gaya hidup. Ekowisata sebagai bagian layanan ekosistem di kawasan konservasi bertumpu pada keseimbangan pengelolaan ekologis dan sosiologis. Aktivitas ekowisata di kawasan konservasi harus memperkuat fungsi dasar perlindungan dan pengawetan yang dimanifestasikan dalam pesan konservasi. “Virtual Tour merupakan media alternatif penyampaian pesan konservasi yang efektif dan efisien dalam bentuk promosi dan edukasi interpretasi alam, budaya dan inisiatif keberlanjutan di destinasi ekowisata,” terangnya. Founder Indonesia Ecotourism Network, Ary S. Suhandi menyampaikan bahwa perubahan iklim itu nyata dan sesuatu yang sangat penting untuk disikapi. Pariwisata memiliki faktor eksternal yang sangat mempengaruhi, dimana perubahan iklim menjadi faktor utama disamping faktor lain seperti bencana alam, penyakit menular, konflik sosial/politik dan terorisme. “Pariwisata bukan hanya sebagai 'korban' pemanasan global, namun pariwisata juga ikut berkontribusi pada masalah ini. Berdasarkan data Nature Climate Change (2018) yang disadur dari Sustainable Tourism International, pariwisata bertanggung jawab atas 8% emisi karbon dunia,” jelasnya. Ary menambahkan, Virtual Tour tidak hanya menyajikan sebuah perjalanan wisata ke destinasi yang ditawarkan, akan tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengedukasi peserta tentang masalah lingkungan, konservasi dan sosial. Wisata virtual juga bisa jadi momen penggalangan dana perbaikan lingkungan. Hal ini menarik, mengingat, isu-isu perubahan iklim dan pengelolaan kawasan konservasi merupakan konten yang menarik untuk dikemas dan disampaikan ke audiens. [irp]
Topik terkait
#wisata alam #pandemi covid-19 #wisata alam virtual