Merawat Asa Kampoeng Bambu Toddopulia di Masa Pandemi

oleh -74 kali dilihat
Merawat Asa Kampoeng Bambu Toddopulia di Masa Pandemi
Suasana alami di kampoeng bambu Toddopulia Maros - Foto/Ist
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Kampoeng Bambu Toddopulia (KBT), Maros telah menjalani usia 3 tahun. Sejak di launching 8 April 2018 lalu, KBT mengalami pasang surut dari aktivitas dan animo pengunjung.

Dampak pandemi Covid-19 ikut menambah daftar kelesuan tempat wisata ini. Di tengah masa pandemi saat ini, Pengelolah KBT mencoba berkreasi, diantaranya dengan mengajak warga KBT untuk membuat kerajinan dari bambu.

Sejak pertengahan bulan Februari telah terbuat berbagai kreasi dari bambu. Berupa gelas bambu, pipet bambu, asbak, dan sendok bambu. Kreasi dari bambu ini tercipta diawali oleh 5 keluarga di sekitar lokasi KBT.

Asa untuk merawat ekonomi warga KBT di masa pandemi covid-19, perlahan mulai membuahkan hasil. Atas penawaran dan sejumlah permintaan, kini total produksi gelas bambu sudah mencapai 16 lusin.

Semangat untuk menghidupkan ekonomi warga di tengah wabah covid-19, semoga bisa tetap berlangsung. Ikhtiar kami selaku peintisa dan pengelolah KBT, untuk bisa menguatkan pondasi ekonomi warga sambil tetap melanjutkan program-program di KBT.

KLIK INI:  Jelajahi Eloknya Puncak Masalili, Gugusan Karst dan Kearifan Lokalnya

Kampoeng Bambu Toddopulia sejatinya adalah hutan bambu. Dimana bambu tumbuh di sekitar rumah warga. Jika dirunut, bambu merupakan tanaman yang mudah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia.

Tanaman bambu, selain memiliki fungsi ekologi, tanaman bambu sering di gunakan oleh beberapa suku bangsa di nusantara sebagai bahan bangunan, transportasi, kuliner, pengobatan, peralatan rumah tangga bahkan digunakan sebagai alat musik.

Namun, bambu belum dianggap sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi?

kampoeng bambu
Gelas bambu karya warga KBT Maros – Foto/Ist
Lebih dekat dengan KBT

Hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Makassar dan ditempuh kurang lebih 60 menit, kita sudah bisa sampai KBT, sebuah destinasi wisata yang terletak di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Objek wisata yang satu ini cukup unik. Karena selain menyuguhkan hamparan pohon bambu yang menyapa setiap orang yang akan berkunjung ke lokasi ini.

Kampoeng Bambu Toddopulia, Maros merupakan satu-satunya objek wisata yang memiliki konsep unik di Sulsel. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan hamparan pohon bambu, sembari merasakan udara sejuk dan suara gesekan batang-batang bambu yang mengeluarkan suara yang khas.

KLIK INI:  Kiprah Iwan Dento, Mengawal Karts Rammang-rammang Maros

Ide awal berdirinya KBT ini, bersama kami 4 orang, Andi Tenri Adi, Sultan, Jufriadi, dan saya sendiri. Bertujuan menghidupkan desa dari potensi sosial dan budaya serta mengangkat potensi desa sebagai sumber pendapat secara ekonomi dengan mempertahankan budaya lokal.

Meski sudah memasuki tahun ketiga, KBT belum mendapat perhatian yang signifikan. Masyarakat belum mampu menangkap peluang secara ekonomi. Perjalanan KBT masih butuh proses panjang, sehingga masyarakat setempat bisa merasakan potensi wahana wisata KBT menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Berbagai program edukasi dilakukan agar masyarakat setempat dapat mengetahui berbagai hal. Soal pemanfaatan kerajinan hingga pembibitan serta pengawetan bambu. Diharapkan pemerintah setempat dapat membantu mencari solusi agar para pengrajin bambu mendapatkan tempat pemasaran yang tepat bagi produk hasil bambu.

Untuk meningkatkan kesadaran akan manfaat bambu di seluruh dunia, Organisasi Bambu Sedunia (World Bamboo Organization -WBO) menetapkan 18 September sebagai Hari Bambu Sedunia.

Penetapan ini bertujuan memperkenalkan potensi bambu ke setiap individu untuk upaya-upaya konservasi alam dan pelestarian lingkungan, termasuk manfaat bambu bagi peluang bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai wujud untuk memelihara kelestarian dan konservasi bambu, warga KBT menetapkan aturan tidak tertulis. Bulan September adalah bulan yang terlarang untuk menebang bambu.

KLIK INI:  Hutan Pinus Tala-Tala Maros, Sensasi Layaknya di Musim Gugur dan Semi